Semangat Kartini di Dapur Gizi: Kebaya dan Sorjan Warnai Pengabdian SPPG Pilangsari Ngrampal

Penulis: Ito
Editor: Eno Filesatu

Semangat Kartini di Dapur Gizi: Kebaya dan Sorjan Warnai Pengabdian SPPG Pilangsari Ngrampal, filesatu, sragen, SPPG Ngrampal

 

Bacaan Lainnya

Filesatu.co.id,  Sragen | Peringatan Hari Kartini di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Selasa (21/4/2026), tidak berhenti pada seremoni simbolik. Di balik balutan kebaya dan sorjan, tersimpan narasi pengabdian yang nyata: sunyi namun berdampak, sederhana namun sarat makna.

Sejak pagi, halaman SPPG di Jalan Raya Ring Road Selatan KM 1, Jetis, Pilangsari, telah dipenuhi aktivitas. Embun belum sepenuhnya hilang, tetapi para relawan sudah bergerak cepat. Perempuan tampil anggun dalam kebaya, laki-laki rapi dalam sorjan. Bukan sekadar busana, melainkan simbol penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini yang diwujudkan lewat kerja nyata.

Di tengah ritme dapur yang sibuk, semangat Kartini menemukan bentuknya: memasak, menyiapkan, dan mendistribusikan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah. Tidak ada jeda untuk romantisme perayaan. Yang ada hanya komitmen bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti.

Kepala SPPG Pilangsari, Ilham Maulana Jamshid, menegaskan bahwa momentum Kartini harus dihidupkan melalui tindakan, bukan sekadar dikenang.

“Hari Kartini bukan hanya diperingati, tetapi dijalankan. Kebaya dan sorjan ini simbol, namun kerja kami adalah esensinya: memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang layak setiap hari,” tegasnya saat ditemui di lokasi pada Media ini.

Distribusi makanan tetap berjalan disiplin sejak pukul 07.00 WIB, menyasar berbagai jenjang pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga pondok pesantren di wilayah sekitar.

Menu yang disajikan pun bukan sekadar pengisi perut, melainkan dirancang sesuai standar pemenuhan gizi nasional. Pada hari itu, menu terdiri dari nasi kuning, telur balado, orek tempe, pisang, susu, serta acar timun dan wortel. Aroma masakan yang menyeruak dari dapur berpadu dengan semangat kolektif para relawan.

Kebaya yang dikenakan tidak menghalangi gerak, justru menjadi pengingat bahwa perempuan bisa tetap kuat, tangguh, dan berdaya dalam berbagai peran. Sebuah pesan yang diwariskan Kartini lintas zaman.

Respons positif datang dari para penerima manfaat. Mereka mengaku terbantu, tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga dari kepedulian yang dirasakan.

“Menunya enak, lengkap, dan bergizi. Kami merasa sangat terbantu,” ujar salah satu penerima dengan wajah sumringah.

Di SPPG Pilangsari, Kartini tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, tetapi dihidupkan dalam setiap aktivitas yang memberi manfaat langsung. Peringatan ini menjadi penegasan bahwa perjuangan tidak selalu hadir di panggung besar. Ia bisa tumbuh dari dapur sederhana, dari tangan-tangan relawan, dan dari setiap piring makanan yang menguatkan generasi bangsa.

Lebih dari sekadar seremoni, inilah wajah Kartini masa kini: bekerja dalam diam, memberi tanpa pamrih, dan memastikan masa depan bangsa tetap terjaga melalui gizi yang terpenuhi. (ITO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *