Filesatu.co.id, Bangli-Bali | Kehadiran Letjen TNI (Purn.) I Nyoman Cantiasa menjadi sorotan dalam acara peluncuran buku “GerBANGLIterasi Surya Candra” yang digelar di Kabupaten Bangli, Minggu (5/4/2026). Sosok jenderal asal Bali yang dikenal ramah dan bersahaja tersebut langsung disambut hangat oleh para tamu undangan yang antusias menyapa dan berjabat tangan.
Kehadiran purnawirawan jenderal bintang tiga ini memberikan nuansa istimewa dalam kegiatan literasi tersebut. Lahir pada 26 Juni 1967 di Bubunan, Seririt, Buleleng, Cantiasa dikenal sebagai salah satu tokoh militer kebanggaan Bali dengan perjalanan karier yang gemilang di tubuh TNI.
Ia merupakan lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1990, serta pernah meraih penghargaan karya tulis terbaik pada pendidikan reguler angkatan tahun 2014. Prestasi tersebut mencerminkan kapasitas intelektual dan kepemimpinan yang kuat sejak awal masa pengabdiannya.
Karier militernya banyak ditempa di satuan elite Kopassus, dengan berbagai posisi strategis seperti Dantim Detasemen 81, Dantim Intel Grup 3 Sandhi Yudha, hingga Komandan Satuan 81 Kopassus. Selain itu, ia juga pernah menduduki sejumlah jabatan penting, di antaranya Danrem 163/Wirasatya, Danrem 173/Praja Vira Braja, Kasdam XVII/Cenderawasih, hingga Danjen Kopassus pada 2019.
Kariernya terus berlanjut dengan menjabat Pangdam XVIII/Kasuari dan Pangkogabwilhan III pada 2022. Setelah itu, ia dipercaya menempati posisi strategis sebagai Koordinator Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat, hingga mengakhiri masa dinasnya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.
Dalam kesempatan tersebut, Cantiasa menyampaikan pesan filosofis yang mendapat perhatian besar dari para hadirin. Ia menggambarkan Bali melalui konsep “tungku tiga batu” sebagai simbol keseimbangan dan kekuatan.
“Bali ini ibarat satu tungku dengan tiga batu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tiga elemen penopang tersebut adalah adat, agama, dan pemerintah. Adat disebut sebagai identitas dan jiwa Bali, agama sebagai landasan spiritual, serta pemerintah sebagai pengatur kebijakan yang menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Bali saat ini, di tengah berbagai tantangan modernisasi dan perkembangan pariwisata. Filosofi tersebut menjadi pengingat penting bahwa kemajuan daerah harus tetap berakar pada nilai budaya, spiritualitas, dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Peluncuran buku “GerBANGLIterasi Surya Candra” pun terasa semakin bermakna dengan kehadiran tokoh nasional asal Bali tersebut, yang tidak hanya membawa wibawa, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan yang mendalam bagi masyarakat Bangli dan Bali secara umum.










