Filesatu.co.id, Blitar | Tahun 2024 menjadi tonggak penting bagi RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Adanya SILAKSMI, sebuah inovasi sistem pelayanan kesehatan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, yang dirancang khusus untuk mengintegrasikan layanan bagi ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas.
Aplikasi ini bertujuan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi melalui pemantauan medis yang lebih terpadu dan responsif, untuk menjawab tantangan akan tingginya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Blitar serta untuk mempercepat proses pelayanan maternal yang sebelumnya memerlukan waktu lama dan sering dikeluhkan masyarakat.
Sebelum program inovasi ini berjalan, Kabupaten Blitar mencatat angka kematian ibu yang cukup mengkhawatirkan, 18 kasus pada 2019, meningkat menjadi 23 kasus pada 2020, dan melonjak drastis hingga 69 kasus pada 2021, dan tahun 2022 menjadi 17 kasus, dan 6 kasus pada tahun 2023.
Kematian bayi kurang dari satu bulan juga berkisar pada angka 106 hingga 120 kasus per tahun. Selain permasalahan klinis, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi juga menghadapi masalah lamanya waktu pendaftaran pasien yang bisa memakan lebih dari 30 menit, waktu tunggu rawat jalan yang mencapai lebih dari dua jam, serta pengambilan obat yang memerlukan lebih dari 30 menit. Situasi ini berdampak pada menurunnya kepuasan pasien serta tingginya risiko keterlambatan penanganan kasus maternal.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Endah Woto Utami, MMRS, menjelaskan bahwa, sepanjang tahun 2024, SILAKSMI menjadi program prioritas rumah sakit dalam memperkuat layanan maternal dan neonatal.
“SILAKSMI terbukti memberikan perubahan yang signifikan. Tahun 2024 kami fokus memperkuat jaringan pelayanan hingga ke desa-desa terpencil agar tidak ada lagi ibu hamil yang terlambat mendapatkan pertolongan,” ungkapnya. Selasa (12/05/2026).
Keunggulan dari sistem SILAKSMI adalah, pasien kini dapat melakukan pendaftaran dari rumah tanpa perlu mengantre di rumah sakit. Notifikasi jadwal kontrol juga dikirimkan secara otomatis untuk memastikan pemantauan yang lebih terstruktur.
“Layanan ambulans gratis 24 jam mampu menjangkau seluruh wilayah Blitar Raya, termasuk desa-desa pegunungan yang sulit dijangkau kendaraan medis biasa. Untuk menjawab tantangan geografis tersebut, rumah sakit mengoperasikan ambulans sepeda trail yang berfungsi sebagai kendaraan penanganan pertama ketika terjadi kedaruratan di wilayah terpencil,” jelas dr. Endah Woro.
dr. Endah Woro juga menyampaikan bahwa, Selain memperluas jangkauan layanan, SILAKSMI juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari jejaring bidan se-Kabupaten Blitar, PSC 119, TAGANA, organisasi kemasyarakatan seperti Fatayat NU dan relawan kesehatan, hingga BPJS, Dinas Kesehatan, Dispendukcapil, dan Ikatan Bidan Indonesia.
“Program ini juga terintegrasi dengan layanan administrasi kependudukan melalui paket PAKIS, yang memudahkan ibu untuk memperoleh akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan KIA langsung setelah persalinan. Para ibu nifas juga dapat bergabung dalam komunitas KINASIH, yang membantu pemantauan kesehatan ibu setelah melahirkan melalui jejaring bidan desa,” imbuhnya.
Aplikasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sebagai rumah sakit tipe B yang terakreditasi paripurna. Anda dapat memantau informasi lebih lanjut melalui kanal resmi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi atau Instagram RSUD “NGUDI WALUYO” WLINGI.
dr. Endah Woro juga berharap bahwa, Inovasi ini bertujuan demi terwujudnya penurunan waktu pendaftaran ibu hamil, bersalin, dan nifas. Terwujudnya penurunan waktu tunggu di pelayanan rawat jalan, pengambilan obat dan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Blitar.
“Tentu dengan menyampaikan strategi keberlanjutan inovasi, dengan menerapkan strategi sosial, strategi institusional dan strategi manajerial. Semoga inovasi ini bisa menjadi sebuah inovasi terbaik dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.(Pram/Adv-Rsud).










