Filesatu.co.id, Madiun | Lalat itu datang seperti siklus yang pasti. Setiap 40 hari, bersamaan dengan panen ayam broiler, warga terdekat dari lokasi kandang bersiap menghadapi satu hal: serbuan lalat. Bukan puluhan, tapi ribuan.
Dalam catatan lapangan yang dihimpun Selasa (14/4), ledakan lalat berlangsung selama tujuh hari, dengan puncak pada hari keempat saat panen. Dalam periode itu, aktivitas warga yang terdampak pun terganggu, dari dapur hingga ruang tamu.
Dari peternakan di Desa Purworejo Kecamatan Geger, lalat meledak. Gangguan meluas hingga Desa Kepet Kecamatan Dagangan. Warga menyebut sumbernya jelas.
“Adanya lalat karena peternakan ayam dan peternakan kambing,” ujar Sabar, warga desa Kepet Kecamatan Dagangan.
Menurutnya, keluhan itu bukan baru. Sudah disampaikan. Bahkan langsung ke peternak. Namun, hasilnya nihil.
“Sudah dimediasi kamituwo dengan peternak tapi belum ada tindak lanjut dari peternak,” imbuhnya.
Di tengah kebuntuan itu, warga bergerak sendiri. Tanpa standar kesehatan, tanpa dukungan teknis.
“Penanganan sementara dari pihak warga berupa raket lalat dan lem lalat,” keluh Kadimun.
Ledakan lalat bukan sekadar gangguan. Dalam praktik peternakan, itu sering menjadi indikator klasik: pengelolaan limbah yang bermasalah.
Kotoran ayam (manure) yang tidak tertangani dengan baik, terutama saat panen, menjadi medium ideal berkembangnya lalat. Apalagi jika terjadi penumpukan tidak tertutup, tidak ada pengolahan (fermentasi/pengeringan), sanitasi kandang lemah, drainase limbah buruk.
Siklus 40 hari yang berulang memperlihatkan pola yang konsisten. Artinya, ini bukan insiden, melainkan sistem yang tidak dibenahi.
Pada Rabu (15/4), Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Madiun turun ke lokasi. Tim diterjunkan, obat disiapkan, arahan diberikan.
Kepala Bidang Peternakan, Harris Imballo R. Siregar menyebut langkah penanganan sudah dilakukan.
“Sudah disampaikan kalau sudah ketemu dengan kamituwo juga dan diberikan arahan dan obat insektisida dan desinfektan juga untuk mengurangi gangguan lalat pada saat panen,” terangnya.
Kasus ini membuka sejumlah kemungkinan serius. Jika dibiarkan, bukan hanya lalat yang berkembang. Tapi juga potensi penyakit, konflik sosial warga vs peternak. Bahkan, hingga temuan audit lingkungan.
Peternakan ayam adalah bisnis cepat. Siklusnya pendek, hasilnya rutin. Tapi diantara angka produksi dan panen, ada satu hal yang tak boleh diabaikan, limbah., yang kini punya wajah dan sayap, yaitu lalat.










