Filesatu.co.id, Jember | Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SD di Kabupaten Jember menuai kontroversi. Sejumlah peserta dan pelatih menyuarakan kekecewaan terhadap sistem penilaian, khususnya pada cabang pencak silat, yang dinilai tidak adil dan mencederai semangat sportivitas.
Kompetisi yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jember tersebut berlangsung di Aula SDN Tegalsari 3, Kecamatan Ambulu, Selasa (14/4/2026).
Awalnya, ajang ini diharapkan menjadi wadah unjuk prestasi siswa. Namun, harapan itu pupus bagi sebagian peserta setelah muncul dugaan kuat adanya keberpihakan juri terhadap atlet tertentu.
Ahmad Ni’am, S.Pd., guru pendamping SDN Pontang 3, menilai ketidakadilan dalam penilaian sangat mencolok. Anak didiknya, ARM, harus puas di posisi kedua meski dinilai tampil lebih unggul.
“Ada kesengajaan yang terjadi jelas-jelas di depan juri, tapi tidak ada pengurangan nilai. Justru peserta lawan yang diuntungkan. Ini sangat mencederai keadilan,” tegas Ahmad Ni’am, Jumat (15/4/2026).
Ahmad Ni’am bahkan menduga adanya hubungan dekat antara atlet yang dimenangkan dengan pihak panitia. “Kami menduga ada intervensi. Ini bukan hanya soal kalah menang, tetapi soal integritas dan marwah olahraga pelajar,” ujarnya.
Video dan Rekap Nilai Tak Diberikan Panitia.
Puncak kontroversi muncul ketika ketua pertandingan tidak bersedia memberikan bukti penilaian. Pelatih silat asal Dusun Bedengan, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, Moh. Mufatin, mengatakan pihaknya meminta dua hal kepada panitia:
1. Rekaman video pertandingan. Panitia dan pihak SDN Andongsari 05 yang meraih juara 1 menyatakan tidak berkenan memberikan dengan alasan video telah terhapus.
2. Foto rekap nilai. Panitia hanya memberikan hasil ketikan komputer. Untuk leger mentah rekap nilai tulisan juri, panitia juga tidak berkenan memberikan dengan alasan tidak ditemukan.
Menurut Mufatin, hal tersebut semakin memperkuat dugaan kejanggalan dalam proses penilaian. “Kami minta Disdikbud, IPSI, dan panitia O2SN segera mengevaluasi serta menganulir juara 1 putri cabor pencak silat Kecamatan Ambulu atau menggelar tanding ulang,” tegasnya.
Mufatin menambahkan, kekecewaan ini tidak hanya melukai semangat kompetisi, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis bagi para siswa. ARM, kata dia, merasa perjuangannya tidak dihargai dan diperlakukan tidak adil.
“Ini bukan sekadar soal medali, tapi soal kejujuran dalam olahraga. Kalau keadilan tidak ditegakkan, bagaimana anak-anak bisa percaya pada sistem?” ujarnya kecewa.
Desakan Evaluasi ke Disdikbud Jember.
Orang tua peserta, Sulipah, S.Pd., M.Pd., berharap laporan ini segera ditanggapi Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap juri karena mereka sudah disumpah untuk menjunjung kejujuran dan keadilan.
“Sportivitas harus dijaga agar hasil benar-benar dari prestasi peserta yang alami, bukan intervensi atau titipan,” katanya.
Sementara itu, Kabid SD Disdikbud Jember, Abdullah, saat dikonfirmasi Filesatu.co.id terkait laporan dan protes sejumlah pihak, menjawab singkat, “Masih kami pelajari permasalahan ini.” kata Dia pada filesatu dikonfirmasi terpisah.
Persoalan tersebut sepertinya, desakan evaluasi dan transparansi pun kian menguat di tengah masyarakat pendidikan dan olahraga Jember. (Togas/Gam).










