Filesatu .co.id, Jember | Awan duka menyelimuti sektor pertanian di wilayah Jember Selatan. Intensitas hujan ekstrem yang mengguyur semalam tanpa henti selama beberapa hari terakhir mengakibatkan areal persawahan Rowogebang, Desa Sumberjo, Kecamatan Ambulun berubah menjadi lautan. Luapan air ini merendam tiga komoditas utama yang menjadi tulang punggung ekonomi warga, yakni cabai, jagung, dan padi, Rabu (14/1/2026).
Kawasan Sidomulyo menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Area persawahan yang biasanya hijau royo-royo, kini tertutup genangan air dengan ketinggian mencapai 50 hingga 80 sentimeter. Kondisi ini membuat para petani hanya bisa menatap nanar dari pinggir jalan, melihat modal tanam mereka terancam hilang ditelan banjir.
Ratusan Hektar Terdampak, Cabai Paling Rentan
Kepala Desa Sumberjo, Riyono Hadi, turun langsung ke lokasi untuk memantau skala kerusakan. Berdasarkan koordinasi cepat dengan kelompok tani setempat, ia mengonfirmasi bahwa luasan lahan yang terdampak mencapai angka yang sangat signifikan.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi ini. Berdasarkan laporan sementara di lapangan, ada ratusan hektar lahan pertanian warga yang terdampak banjir. Mulai dari tanaman padi yang baru berumur beberapa minggu, jagung yang sedang tumbuh, hingga cabai yang merupakan komoditas bernilai tinggi di wilayah Sidomulyo,” ujar Riyono Hadi saat ditemui di sela-sela peninjauan lahan.
Tanaman cabai menjadi perhatian khusus karena sifatnya yang sangat sensitif terhadap kelembapan berlebih. Jika genangan air menetap lebih dari 24 jam, akar tanaman dipastikan membusuk dan menyebabkan layu permanen. “Bagi petani cabai, ini adalah pukulan telak. Biaya tanam cabai sangat mahal, dan jika banjir tidak segera surut, kerugian materialnya bisa mencapai miliaran rupiah untuk satu desa saja,” tambah Riyono.
Sistem Drainase dan Normalisasi Saluran
Penyebab utama membeludaknya air ke lahan persawahan di Desa Sumberjo ini diduga akibat debit air sungai dan saluran irigasi primer yang tidak lagi mampu menampung volume air hujan yang kiriman dari wilayah hulu. Kurangnya normalisasi saluran pembuangan air di area Sidomulyo memperparah keadaan, membuat air terjebak di sawah tanpa bisa mengalir keluar dengan cepat.
Riyono Hadi menegaskan bahwa pihaknya akan segera bersurat secara resmi kepada camat Ambulu, dan Dinas terkait Pemerintah Kabupaten Jember dan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga serta Sumber Daya Air (DPU BMSDA) dan Gus Bupati untuk meminta penanganan darurat dan solusi jangka panjang.
“Kami akan melaporkan data ratusan hektar yang terdampak ini kepada Pemerintah Daerah. Kami sangat berharap ada upaya normalisasi saluran irigasi dan pengerukan sungai di titik-titik krusial agar banjir musiman ini tidak terus menjadi mimpi buruk tahunan bagi petani kami,” tegas Kades yang dikenal dekat dengan warga ini.
Harapan Bantuan Pemerintah
Kini, para petani di Desa Sumberjo hanya bisa bergantung pada cuaca. Harapan mereka adalah hujan segera mereda dan pemerintah memberikan kompensasi atau bantuan berupa bibit dan pupuk bagi mereka yang dipastikan gagal panen (puso).
Di tahun 2026 yang penuh tantangan ekonomi ini, sektor pertanian tetap menjadi benteng terakhir ketahanan pangan. Tanpa penanganan yang cepat dan solutif dari instansi terkait, nasib ratusan keluarga petani di Ambulu berada di ujung tanduk akibat bencana banjir yang tak kunjung teratasi secara permanen.( Togas )










