Filesatu.co.id, SIDOARJO | DI TANAH yang menyimpan tapak doa para leluhur, di antara denyut zaman yang terus lumaku, masyarakat Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, kembali meneguhkan ikatan spiritual dan kultural melalui Festival Budaya dan Ruwah Desa. Tradisi Memetri Deso yang dirangkai dengan Umbul Dungo serta pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini bukan sekadar seremoni, melainkan laku batin kolektif “eling lan waspada” dalam merawat warisan spiritual Nusantara sebagai wujud rasa syukur marang Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Menciptakan dan Menguasai seluruh alam semesta) serta penghormatan kepada para leluhur, Minggu (1/2/2026).
Acara dibuka dengan Pembagian Sembako untuk kaum duafa/janda tidak mampu dan santunan untuk Anak Yatim-Piatu penyerahan secara simbolis oleh Kepala desa Suruh Bapak Suwono.
Nuansa sakral berpadu erat dengan semangat gotong royong saat ratusan warga memadati area Balai Desa. Di tengah arus modernisasi Kota Delta yang kian deres lan gumulung, Ruwah Desa hadir sebagai pratanda bahwa nilai-nilai adiluhung tidak sirna digerus wektu, melainkan tetap urip lan sumrambah dalam denyut kehidupan masyarakat. Tradisi ini menjadi penopang harmoni sosial, selaras dengan pitutur Jawa: urip rukun agawe santosa.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak Kamis, 29 Januari 2026, dengan Khotmil Qur’an pada pagi hari, dilanjutkan Istighosah dan doa bersama pada malam harinya di Balai Desa Suruh. Seluruh rangkaian ibadah ini menjadi ikhtiar spiritual bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan rezeki, serta ketenteraman hidup bermasyarakat.
Kepala Desa Suruh, Suwono, menegaskan bahwa Ruwah Desa bukan sekadar agenda tahunan. “Ruwah Desa adalah ruang refleksi spiritual dan sosial. Di sinilah kita diajak ngelingi jati diri, menjaga keseimbangan hubungan dengan Gusti, sesami, lan alam. Gotong royong dan kebersamaan adalah ruh utama tradisi ini,” ujarnya.
Festival Budaya digelar pada Minggu, 1 Februari 2026. Sekitar pukul 13.45 WIB, ratusan warga dengan dukungan aktif karang taruna bergerak dari kawasan Pujasera menuju Kantor Desa Suruh dalam pawai budaya. Hasil bumi yang dibentuk menjadi tumpeng diarak sebagai simbol rasa syukur atas kesuburan tanah dan limpahan rezeki desa, menghidupkan falsafah sapa nandur bakal ngundhuh. Pawai diiringi alunan musik dari sound system kendaraan serta kesenian Reog Jaranan Turonggo “Sekar Wijoyo Kusumo” dari Dawar Blandong, Mojokerto, yang menghadirkan harmoni gerak, irama, dan rasa seni tradisi.
Secara khusus, Camat Sukodono Ineke Dwi Setiawati, S. STP, M. PA dalam sambutanya menekankan pentingnya pembersihan sampah di saluran avour sebagai tanggung jawab bersama guna mencegah banjir dan menjaga kelestarian lingkungan. “Merawat tradisi harus seiring dengan merawat alam. Kebersihan saluran air adalah ikhtiar lahiriah yang sejalan dengan laku batin Ruwah Desa,” ujarnya.
Puncak acara malam pagelaran wayang kulit dengan dalang “Ki Didik Sasmito Aji” Kegiatan ini cukup meria dihadiri dan diikuti oleh perangkat desa, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta undangan dari unsur Forkopimcam Sukodono, Ketua FKDI Kabupaten Sidoarjo, Ketua FKD Kecamatan Sukodono, dan para Kepala Desa se-Kecamatan Sukodono, termasuk Kades Kebonsari, Candi pagerngumbuk, wonoayu turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi dan penguatan nilai spiritual masyarakat.
Wayang bukan sekadar Tontonan, melainkan Tuntunan media kontemplasi yang menuturkan nilai kepemimpinan, kejujuran, kesabaran, dan kebijaksanaan hidup. Melalui sabetan dalang dan lantunan sulukan, masyarakat diajak merenungi makna urip iku sawang sinawang serta pentingnya menjaga keseimbangan lahir dan batin di tengah perubahan zaman.
Melalui Festival Budaya dan Ruwah Desa, masyarakat Desa Suruh meneguhkan komitmen menjaga tradisi sebagai fondasi harmoni sosial. Doa dipanjatkan, budaya dirawat, dan harapan masa depan dirajut bersama demi terwujudnya desa yang religius, berbudaya, lan bermartabat,” pungkas Kepala Desa Suruh. ***





