LPASP Sentil Pemkab Tidak Pernah ada Atensi Dunia Perfilman Daerah Banyuwangi

  • Whatsapp

Denny Sun’anudin (Ketua LSAP Banyuwangi)
Cover Film “Impian Sang Anak Kampung” Episode Perdana dalam kisah “Korban Kejamnya Rentenir
. Photo: Istimewa

FILESATU.CO.ID, BANYUWANGI – Kiprah Lembaga Seni Akting dan Perfilman (LSAP) Banyuwangi yang berupaya menjadikan Kabupaten Banyuwangi sebagai pintu gerbang Perfilman Berbasis Kearifan Lokal, terlihat kian dimantapkan. Diantaranya lebih memilih intens menggali, mengangkat serta menumbuh kembangkan beragam potensi kearifan lokal ke ranah perfilman yang dialognya menggunakan bahasa daerah, yakni Boso Osing Banyuwangi.

Bacaan Lainnya

Baca Lainnya :

Hal itu diungkapkan Denny Sun’anudin Ketua LSAP Banyuwangi pria asal kecamatan Srono pada Minggu (7/3/2021). Bahkan untuk mengawali tahun 2021 ini, LSAP Banyuwangi membuat film terbaru dengan judul “Impian Sang Anak Kampung” bergenre Indhie edukasi non-komersial yang digarap secara berepisode dan pada episode perdananya mengangkat seputar kisah “Korban Kejamnya Rentenir”, film ini terinspirasi dari fenomena sosial yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

“Dalam episode perdana tersebut, kami mengangkat peristiwa yang marak terjadi di tengah masyarakat. Di antaranya adanya keluarga miskin yang terjerat pinjaman pada rentenir dengan bunga cukup tinggi. Karena dalam batas tertentu tak mampu membayar hutang beserta bunganya, sang rentenir menyita rumahnya. Sedangkan yang punya rumah diusir keluar begitu saja,” tandas Deny pendiri LSAP Banyuwangi ini.

Diakuinya, LSAP Banyuwangi berkonsentrasi mencetak calon-calon talenta di dunia seni peran. Sehingga pihaknya lebih memberikan kesempatan pada putra putri daerah Banyuwangi yang mempunyai bakat dan minat untuk didik dan dibina secara berkelanjutan tentang teknik reading dan aktingnya. Jika sudah dipandang mampu, baru diikutsertakan dalam penggarapan film yang diprodksi LSAP Banyuwangi.

“Selama memproduksi film sejak tahun 2016 lalu, dalam hal pembiayaannya kami secara swadaya mandiri. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pemda Banyuwangi. Bahkan tidak ada  sumbangsih dari Pemda walau itu hanya sepeserpun. Tidak ada itu,” tegas pria yang juga berprofesi sebagai pengacara tersebut.

Pihaknya juga amat menyayangkan, karena selama ini baik Bupati maupun Pemda Banyuwangi tidak pernah memberikan atensi terhadap keberadaan dunia perfilman daerah Banyuwangi. Padahal keberagaman seni budaya daerah dan wisatanya sangat layak serta eksotik di promosikan melalui film kearifan lokal.

“Film itu merupakan media yang paling efektif untuk menyampaikan sekaligus mempromosikan segala sesuatu, termasuk di antaranya seni budaya daerah serta objek-objek wisatanya. Anehnya hal itu tak pernah dilakukan, justru selama ini lebih memuliakan orang-orang dari ibu kota daripada memfungsikan SDM-SDM di Banyuwangi,” ungkap pemeran Pak Agus di FTV “Kusapa Cinta dan Matahari Dari Jawa” itu sembari geleng-geleng kepala.

Disinggung soal penayangan film-film hasil produksinya, Denny menjelaskan semuanya diunggah ke Youtube LSAP Banyuwangi Channel. Alasannya, di Channel Youtube dapat dilihat oleh siapapun secara luas sesuai luang waktunya tanpa harus ada pembatasannya. “Dan teman-teman pengelola TV lokal berlangganan di Banyuwangi, alhamdulillah juga mengapresiasi dan memutarnya di channel TV-nya masing-masing secara berkala,” pungkasnya.(bi).



Tinggalkan Balasan