Imbas Viral Isu Pesta Gay, Sri Rahayu dan Siti Rohbaniati Sidak RSUD Karawang Terkait HIV

Penulis: Nina Susanti
Editor: Redaksi
Sri Rahayu Agustina dan Hj. Siti Rohbaniati melakukan kunjungan ke RSUD Karawang untuk memperoleh data dan informasi terkait penyebaran HIV-AIDS
Sri Rahayu Agustina dan Hj. Siti Rohbaniati melakukan kunjungan ke RSUD Karawang untuk memperoleh data dan informasi terkait penyebaran HIV-AIDS

Filesatu.co.id, KARAWANG | Anggota DPRD Jawa Barat Sri Rahayu Agustina, SH bersama Ketua BKMM-DMI Kabupaten Karawang, Dra. Hj. Siti Rohbaniati yang didampingi unsur Organisasi Kewanitaan melakukan kunjungan ke RSUD Karawang untuk memperoleh informasi dan data terkait penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Karawang pasca viralnya dugaan pesta sesama jenis yang terjadi di salah satu tempat hiburan malam (THM) di Karawang.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kesehatan masyarakat sekaligus upaya memperkuat koordinasi antara legislatif, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan dalam menekan angka penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Karawang.

Bacaan Lainnya

Sri Rahayu mengatakan, pihaknya sengaja mendatangi RSUD Karawang untuk mendapatkan gambaran secara langsung mengenai kondisi terkini kasus HIV/AIDS, pola penyebaran, jumlah pasien yang ditangani, serta langkah-langkah pencegahan yang telah dilakukan oleh pemerintah dan fasilitas kesehatan.

“Kami ingin mengetahui kondisi HIV di Karawang secara utuh. Apa yang bisa kami lakukan dari sisi kebijakan, bagaimana koordinasi dengan pemerintah daerah, rumah sakit, tokoh agama, dan masyarakat sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan secara lebih maksimal,” ujar Sri Rahayu saat berdialog dengan jajaran RSUD Karawang, Rabu (10/06/2026).

Menurutnya, perhatian terhadap persoalan HIV/AIDS tidak boleh berhenti hanya pada peristiwa yang sempat menjadi sorotan publik. Pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat perlu melihat persoalan tersebut secara lebih luas dan komprehensif.

Ia menilai pengawasan tidak hanya perlu dilakukan terhadap tempat hiburan malam, tetapi juga terhadap berbagai lingkungan yang berpotensi menjadi tempat aktivitas berisiko, seperti kos-kosan, apartemen, hotel, hingga lokasi lain yang memerlukan perhatian bersama.

Dalam pertemuan tersebut, Sri Rahayu juga mempertanyakan perkembangan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Karawang yang dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Barat. Menurutnya, pertumbuhan industri yang pesat dan tingginya mobilitas penduduk perlu menjadi perhatian karena dapat membawa berbagai dinamika sosial yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Kami ingin mengetahui apakah perkembangan Karawang sebagai kawasan industri memiliki pengaruh terhadap peningkatan kasus HIV/AIDS. Ini perlu menjadi bahan evaluasi dan perhatian bersama agar langkah pencegahan bisa lebih tepat sasaran,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS, mengingat masih banyak masyarakat yang memperoleh informasi dari media sosial yang belum tentu benar. Menurut Sri Rahayu, pemahaman yang baik mengenai HIV/AIDS sangat penting untuk mencegah munculnya stigma terhadap penderita sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan.

Dalam pemaparannya, pihak RSUD Karawang menjelaskan bahwa layanan HIV/AIDS dilakukan secara terpadu dengan melibatkan dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis kandungan, tenaga laboratorium, serta tim konseling dan edukasi.

RSUD Karawang mencatat jumlah kunjungan pasien HIV/AIDS yang cukup tinggi. Pada tahun 2025, ribuan pasien menjalani pelayanan kesehatan terkait HIV/AIDS. Sementara hingga Maret 2026, jumlah kunjungan telah mencapai sekitar 2.500 pasien.

Setiap hari, rumah sakit juga melayani puluhan pasien yang menjalani pemeriksaan, konsultasi, maupun terapi antiretroviral (ARV). Selain itu, setiap bulan masih ditemukan pasien baru yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Berdasarkan data yang dipaparkan, pasien laki-laki masih mendominasi jumlah kasus dibandingkan perempuan. Sementara sebagian besar pasien yang menjalani terapi dapat mempertahankan kualitas hidupnya melalui pengobatan yang rutin dan berkelanjutan.

Pihak rumah sakit juga menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial biasa seperti berjabat tangan, makan bersama, penggunaan alat makan yang sama, maupun interaksi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak memberikan stigma maupun diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dalam dialog tersebut, Sri Rahayu menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter anak dan mencegah berbagai perilaku berisiko. Menurutnya, perkembangan teknologi digital saat ini menghadirkan tantangan baru bagi para orang tua. Karena itu, keluarga harus menjadi benteng pertama dalam memberikan pendidikan moral, agama, dan pengawasan terhadap anak-anak.

“Orang tua harus lebih aktif mendampingi anak-anaknya. Jangan sampai pendidikan karakter hanya diserahkan kepada sekolah atau lingkungan. Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk generasi yang sehat dan berakhlak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa faktor ekonomi, lingkungan pergaulan, keharmonisan keluarga, hingga pengaruh media digital dapat menjadi faktor yang memengaruhi perilaku generasi muda. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan berbagai persoalan sosial dan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Ketua BKMM-DMI Kabupaten Karawang, Dra. Hj. Siti Rohbaniati, menyatakan kesiapan organisasinya untuk membantu pemerintah dan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. According to her, jaringan majelis taklim yang tersebar di berbagai wilayah Karawang dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi mengenai bahaya HIV/AIDS, cara pencegahan, serta pentingnya menjaga kesehatan keluarga.

“Kami ingin mendapatkan pemahaman yang benar dari tenaga kesehatan agar dapat menyampaikan edukasi yang tepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat tidak hanya mengetahui bahayanya, tetapi juga memahami cara pencegahan dan penanganannya,” ujar Siti Rohbaniati.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat pendidikan agama, pendidikan karakter, serta ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan berkualitas.

Sri Rahayu menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan hanya oleh rumah sakit atau pemerintah daerah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, organisasi masyarakat, dunia pendidikan, hingga keluarga.

Menurutnya, langkah pencegahan harus menjadi prioritas melalui edukasi yang berkelanjutan, peningkatan kesadaran masyarakat, serta penguatan lingkungan sosial yang sehat.

“Kita harus bergandengan tangan. Pemerintah, rumah sakit, tokoh agama, dan masyarakat harus bersama-sama melakukan pencegahan agar angka penyebaran HIV/AIDS di Karawang dapat ditekan,” tegasnya.

Melalui kunjungan tersebut, DPRD Jawa Barat bersama BKMM-DMI Karawang berharap dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan HIV/AIDS sekaligus meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berdaya tahan terhadap berbagai persoalan sosial maupun kesehatan.***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *