Pasar Takjil di Banyuwangi Sukses Dongkrak Perekonomian, Putaran Uang mencapai Miliaran Rupiah

Keterangan Foto: Pasar Takjil sore hari warga bberjubal untuk membeli bekal buka puasa. Foto: istimewa.

Filesatu.co.id, Banyuwangi | Momen bulan Ramadan  masyarakat terutama penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) manfaatkan waktu untuk  berjualan jajanan takjil yang di pusatkan di pasar takjil. Sambil menungu  menunggu buka puasa atau Ngrandu Buko masyarakat dimanfaatkan untuk beburu takjil.

Bacaan Lainnya

Fenomeno tersebut sudah manjadi tradisinya masyarakat Banyuwangi sehingga Pemerintah Banyuwangi menggelar pasar Ngerandu Buko secara serentak sejak awal Ramadan di Banyuwangi.Hasilnya mampu menggerakkan ekonomi masyarakat arus bawah, memasuki pertengahan Ramadan hari ke-15 ini, perputaran uang UMKM  di 38 titik pasar takjil yang tersebar di Banyuwangi mencapai miliaran rupiah.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskopumdag) Banyuwangi, Nanin Oktaviantie menyebut, estimasi perputaran uang di seluruh pasar takjil Ramadan ini mencapai Rp 500 juta hingga Rp 550 juta setiap harinya.

Ia menyebut, jika diakumulasi mulai awal hingga pertengahan Ramadan ini, perputaran uang di 38 titik pasar takjil Ngerandu Buko se-Banyuwangi berkisar di Rp 7,5 miliar hingga Rp 8,2 miliar.

“Jika terus demikian (bertahan) hingga akhir Ramadan, kami optimis perputaran uang bisa tembus di angka belasan miliar,” ujar Nanin, Selasa (26/3/2024).

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan yang dihasilkan oleh pasar takjil. Momen ini terbukti memainkan peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat di level arus bawah.

“Pasar takjil tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen akan hidangan berbuka puasa yang lezat, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi pedagang lokal,” ungkapnya.

Nanin menambahkan, pasar takjil Ngerandu Buko yang digagas Pemkab Banyuwangi telah menjadi tempat berkumpulnya pedagang yang menawarkan beragam makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Mulai dari kolak, es buah, patola, kopyor roti, pisang precet, hingga berbagai camilan tradisional, pasar ini menawarkan beragam pilihan yang memanjakan lidah pembeli.

Keberhasilan pasar takjil ini tidak hanya tercermin dalam angka perputaran uang yang tinggi, tetapi juga dalam keterlibatan aktif masyarakat dalam berbelanja dan berinteraksi di pasar.

“Dengan adanya pasar takjil, masyarakat tidak hanya dapat menikmati hidangan lezat untuk berbuka puasa, tetapi juga dapat merasakan atmosfer Ramadan yang penuh berkah dan kehangatan,” imbuhnya.

Melalui pencapaian ini, pasar takjil Ngerandu Buko telah membuktikan perannya sebagai motor ekonomi lokal yang penting, serta sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas di bulan suci Ramadan.

‘’Diharapkan, keberhasilan pasar takjil ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Banyuwangi secara keseluruhan,’’ pungkas Nanin.

Untuk perlu diketahui, pasar takjil Ramadan yang digelar Pemkab Banyuwangi tahun ini dikemas dalam “Festival Ngerandu Buko”. Pasar takjil ini digelar sebulan penuh mulai pukul 15.00 WIB hingga 21.00 WIB dengan melibatkan warga dan UMKM sekitar 1.354 dimulai tanggal 12 Maret hingga 9 April 2024.(*)

Tinggalkan Balasan