Menggeluti Ternak Sapi Unggukan Pemuda Banyuwangi Berpenghasilan Miliran Rupiah

Keterangan Foto: Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menemui peternak sapi sukses Adam Sughanda . Foto : Istimewa.

FILESATU.CO.ID, Banyuwangi | Peterrnak hewan sapi sukses di Banyuwangi yang omsetnya sudah Miliaran dalam setahun menjadi Inspirasi bagi peternnak lain, apalagi sapi yang dirawat tembus ke pasar Nasional dangan harga di pasaran satu ekor mencapai ratusan juta rupiah.

Salah satunya Adam Sugandha, pemuda 28 tahun warga Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari yang menggeluti usaha ternaknya sejak tahun 2020 lalu. Ia mulai merintis hanya dengan lima ekor sapi hngga berkembang menjadi 50 ekor sapi yang diberi nama usahanya Enzo Farm.

Bacaan Lainnya

Hewan sapi yang dikelola Adam mayoritas  jenis sapi unggulan seperti Limosin dan Simental yang bobot kilo gramnya bisa mencapai satu ton lebih. Tak ayal  sapi milik Adam pernah dibeli Presiden Joko widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

“Kami juga punya Pegon dan Madura untuk konsumen yang menginginkan harga ekonomis,” kata Adam saat dikunjungi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, beberapa waktu lalu.

Dikisahkan Adam, menggeluti ternak diawali membeli sapi saat istrinya mengandung anak pertama di 2020. “Waktu itu istri lagi ngidam ingin beli sapi. Makanya saya beli 5 ekor. Itupun tidak saya rawat sendiri, melainkan dititipkan ke orang lain sembari ingin belajar beternak sapi,” ujarnya.

Setelah mengetahui seluk beluk beternak sapimiliknya. Adam juga mulai berbisnis jual beli sapi. Selain sapi potong, adam juga jua, enam bulan kemudian Adam memutuskan untuk merawat sendiri sapi l beli sapi kontes dengan harga fantastis.

“Semakin serius menggeluti, saya semakin hobi dan mulai tertarik mengikuti kontes sapi di berbagai daerah. Alhamdulillah sering juara. Dari sanalah, relasi dan jaringan saya bertambah sehingga pasar saya juga semakin luas,” ungkapnya.

Untuk perawatannya, Adam menjelaskan memakai sistem penggemukan dirawat 1-4 bulan.“Biasanya saya beli yang bobot 400-500 kg, kemudian saya gemukkan sendiri. Saya rawat 1-4 bulan baru dilepas, tergantung permintaan konsumen mau yang bobot berapa,” jelas Adam.

Megenai pemasarannya, Adam menyebut, dalam setahun mampu menjual sebanyak 300 ekor sapi dengan omzet mencapai Rp. 5 miliar.  Selain Banyuwangi, permintaan datang dari Jakarta, Bogor, Kediri, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Harganya pun bervariasi antara Rp. 15 – 150 juta.
“Seperti Momen Idul Adha itu paling ramai. Seperti tahun lalu, Pak Presiden dan Wapres juga beli sapi dari kami. Milik Pak Jokowi 1,2 ton jenis Simental, sedangkan milik Pak Ma’ruf Amin 1,1 ton jenis Limosin,” ungkapnya.

Bisnisnya kadang tak selalu mulus, Adam mengaku pernah mengalami kerugian dalam menjalankan bisnis peternakannya, bahkan pernah ada yang mati. Namun hal itu tidak membuat Adam putus asa. Sebaliknya dia terus menjalankan usahanya dengan sepenuh hati sehingga menghasilkan sapi berkualitas tinggi

“Pernah ada yang mati itu lima ekor, kalau  harganya waktu itu masih 30-50 juta satu ekornya,” pungkas Adam.

Keberhasilan Adam mendapata apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, menurutnya, ini bisa jadi inspirasi bagi anak-anak muda yang lain agar anak muda jangan malu terjun ke bisnis pertanian dan peteranakan karena potensinya terbuka luas.

“Jangan malu manjadi peternak, Mas Adam adalah buktiny, dengan beternak sapi dia bisa sukses hingga beromset miliaran rupiah,” pesan Ipuk.

Ditambahkan Ipuk, Banyuwangi sendiri memiliki banyak program yang mendorong anak-anak muda daerah untuk terjun ke bisnis pertanian, dengan segala sub sektornya. Salah satunya, Banyuwangi menggeber program Jagoan Banyuwangi yang di dalamnya ada Jagoan Tani, Jagoan Bisnis, serta Jagoan Digital.

Bahkan lanjut Ipuk,  selain membuka kelas inkubasi bisnis, program tersebut juga menyediakan hadiah senilai ratusan juta sebagai stimulus modal usaha bagi peserta.

“Kami terus mendorong agar anak muda Banyuwangi punya skill bisnis. Kami juga siapkan stimulus modalnya, sehingga mereka tidak hanya menunggu lowongan kerja, melainkan bisa menciptakan lapangan kerjanya sendiri,” jelas Ipuk. (*)

 

Tinggalkan Balasan