Filesatu.co.id, Lumajang | Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menegaskan pentingnya langkah antisipatif dalam menghadapi potensi dampak musim kemarau tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Selasa (7/4/2026).
Ia menilai, antisipasi dini bukan sekadar langkah teknis, melainkan strategi utama untuk menjaga stabilitas daerah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih, pangan, dan aktivitas ekonomi.
“Kesiapsiagaan harus dimulai dari perencanaan yang terintegrasi agar potensi gangguan terhadap masyarakat dapat diminimalkan sejak awal,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan penanganan bencana perlu bertransformasi dari pola reaktif menjadi preventif, dengan mengedepankan perencanaan berbasis risiko yang terukur dan berkelanjutan.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi mitigasi, termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penyiapan langkah intervensi yang tepat.
Pemerintah Kabupaten Lumajang juga memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui optimalisasi jaringan irigasi, rehabilitasi infrastruktur, serta pemanfaatan sumber air alternatif.
Upaya tersebut bertujuan menjaga ketersediaan air sekaligus mendukung keberlangsungan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi masyarakat.
Selain itu, pendekatan edukatif kepada masyarakat juga menjadi perhatian, guna meningkatkan literasi dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa masyarakat perlu dilibatkan sebagai bagian dari solusi dalam menjaga ketahanan lingkungan.
“Kesiapsiagaan menghadapi kemarau harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, sinergi menjadi kunci dalam menciptakan sistem ketahanan daerah yang adaptif terhadap perubahan iklim.
“Ketahanan daerah tidak dapat dibangun sendiri. Diperlukan komitmen bersama agar setiap langkah yang diambil benar-benar memberikan manfaat,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Lumajang optimistis, melalui pendekatan yang terencana dan kolaboratif, stabilitas daerah dapat terjaga serta masyarakat tetap produktif dan tangguh menghadapi tantangan musim kemarau.**










