Ribuan Warga Bali Siap Gelar Nyepi 1948, Ogoh-Ogoh dan Catur Brata Penyepian Menjadi Sorotan

Filesatu.co.id, Bali  | Umat Hindu di Bali bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Rangkaian upacara adat dan tradisi sakral pun akan kembali digelar, mulai dari Melasti, Tawur Kesanga, hingga pawai ogoh-ogoh yang menjadi ciri khas perayaan Nyepi di Pulau Dewata.

Sejumlah desa adat di seluruh Bali mulai melakukan persiapan sejak awal Maret. Rangkaian perayaan diawali dengan upacara Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi. Upacara ini berlangsung di sumber-sumber air suci seperti pantai, danau, dan mata air, sebagai simbol penyucian diri, alam, serta seluruh sarana upacara (pratima) yang disungsung umat Hindu.

Bacaan Lainnya

Sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Rabu (18/3/2026), masyarakat Bali melaksanakan upacara Tawur Kesanga atau Pecaruan. Upacara ini digelar di tingkat desa adat, banjar, hingga perempatan jalan (catus pata), sebagai bentuk harmonisasi antara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (manusia), sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana.

Pada malam menjelang Nyepi, tradisi pawai ogoh-ogoh menjadi pusat perhatian masyarakat. Ogoh-ogoh yang merupakan simbol bhuta kala atau sifat-sifat negatif manusia diarak mengelilingi desa adat dengan iringan gamelan baleganjur. Setiap banjar menampilkan ogoh-ogoh hasil kreativitas generasi muda, dengan tema yang diangkat dari mitologi Hindu, epos pewayangan, hingga isu sosial yang dikemas dalam pesan moral.

Puncak perayaan Nyepi ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yakni amati geni (tidak menyalakan api atau listrik), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Seluruh aktivitas di Bali dihentikan, termasuk operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sebagai bentuk perenungan dan introspeksi diri.

Desa adat dan pecalang memiliki peran penting dalam menjaga kesakralan dan ketertiban selama pelaksanaan Nyepi. Mereka bersinergi dengan aparat keamanan untuk memastikan seluruh rangkaian perayaan berjalan aman, tertib, serta tetap menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

Pemerintah daerah bersama desa adat memastikan perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 berlangsung sesuai dengan nilai-nilai adat dan budaya Bali. Selain sebagai perayaan keagamaan, Nyepi juga menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus wujud kearifan lokal Bali dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Perayaan Hari Raya Nyepi tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi identitas budaya Bali yang terus lestari di tengah perkembangan zaman dan dinamika pariwisata global.

Tinggalkan Balasan