Filesatu.co.id, Banyuwangi| Aroma bunga setaman mengisi Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi. Satu per satu keris, tombak, dan tosan aji berusia ratusan tahun dibersihkan dengan khidmat. Jelang malam 1 Suro, Paguyuban Panji Blambangan menggelar Gelar Budaya Keris 2026 perhelatan yang tak hanya memikat pecinta pusaka, tapi juga menyedot perhatian budayawan, seniman, hingga wisatawan mancanegara.
Kegiatan yang berlangsung 16–19 Juni 2026 di Cafe Museum Banyoewangi Tempo Doeloe, acara ini jadi panggung besar pelestarian warisan Nusantara. Sejumlah tokoh hadir memberi dukungan. Ketua DKB Hasan Basri, Punjul Ismu Wardoyo dari Padepokan Alang-Alang Kumitir, penyair Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Hariyono dari Kiling Osing, musisi Osing Yons DD, serta budayawan senior Ki Pramoe Karno Sakti.
Prosesi jamasan dipimpin KRT Ilham Triadi Nagoro, kurator pusaka nasional sekaligus asesor keris bersertifikat BNSP. Baginya, jamasan bukan sekadar membersihkan bilah.
“Bulan Suro momentum terbaik memulai lembaran baru dengan hati bersih. Jamasan mengingatkan kita selain merawat pusaka fisik, kita juga harus merawat batin dan nilai luhur warisan leluhur,” ujarnya.
Selama 4 hari, Pelinggihan Disbudpar berubah jadi galeri sejarah hidup. Puluhan keris era Singhasari, Majapahit, hingga Blambangan dipamerkan. Tiap bilah menyimpan cerita kejayaan kerajaan, keahlian empu, dan perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Panji Blambangan juga membuka layanan konsultasi tangguh, edukasi perawatan pusaka, hingga sertifikasi tosan aji.
“Tahun ini kami buka sertifikasi pusaka. Tujuannya agar masyarakat tak hanya memiliki, tapi benar-benar paham nilai sejarah, filosofi, dan cara merawatnya,” kata Ilham.
Ia menegaskan keris bukan cuma soal mistis. “Keris adalah simbol jati diri bangsa. Karya seni sekaligus teknologi tinggi di masanya. Bukti kecerdasan empu Nusantara. Ini warisan yang harus dikenalkan ke generasi muda,” tegasnya.
Daya tariknya sampai ke turis Prancis, Zoe Couliard. Ia mengaku takjub. “Saya belum pernah lihat tradisi seperti ini. Mengesankan melihat benda kuno ratusan tahun masih dijaga dengan penghormatan penuh oleh generasi penerus,” ungkapnya.
Melalui Gelar Budaya Keris 2026, Panji Blambangan membuktikan satu hal: pusaka bukan peninggalan mati. Di tangan para pelestari, keris hidup kembali sebagai simbol kebanggaan, media edukasi, dan pengingat bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang tak lupa akarnya.










