Filesatu.co.id, MADIUN | Di tengah proses investigasi yang masih berlangsung atas insiden di perlintasan sebidang JPL 103 Bagor, Kabupaten Madiun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun memilih tidak hanya menunggu hasil penyelidikan. Perusahaan hadir langsung di tengah keluarga korban sebagai bentuk empati, menegaskan bahwa di balik perjalanan kereta yang terus berjalan, ada sisi kemanusiaan yang tidak boleh berhenti.
Vice President Daop 7 Madiun Ali Afandi bersama jajaran manajemen mendatangi kediaman almarhum Tabah Nur Arriski untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerahkan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Perhatian serupa juga diberikan kepada Djamiran, korban selamat yang masih menjalani perawatan di RSUD Nganjuk melalui kunjungan Manager Kesehatan Daop 7 Madiun.
Manager Humas Daop 7 Madiun, Tohari, menegaskan bahwa kehadiran tersebut merupakan bentuk kepedulian yang lahir dari rasa kemanusiaan.
“Kehadiran kami hari ini bukan sekadar menjalankan tugas perusahaan, tetapi sebagai sesama manusia yang turut merasakan duka yang dialami keluarga. Tidak ada kata yang mampu menghapus rasa kehilangan, namun kami berharap kehadiran kami dapat menjadi penguat bahwa keluarga tidak menghadapi musibah ini sendirian,” ujar Tohari.
Selain menyampaikan belasungkawa secara langsung, KAI Daop 7 Madiun juga memberikan santunan kepada keluarga almarhum sebagai bentuk kepedulian perusahaan.
Tohari menambahkan, perhatian yang sama juga diberikan kepada korban yang masih menjalani perawatan.
“Doa kami menyertai almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan. Sementara bagi Bapak Djamiran, kami berharap segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga,” tuturnya.
Di sisi lain, KAI Daop 7 Madiun memastikan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait tetap berjalan hingga proses investigasi selesai.
“Proses investigasi masih berlangsung bersama pihak berwenang. Hasil investigasi nantinya akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun keselamatan masyarakat. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keselamatan di perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepatuhan, kewaspadaan, dan kepedulian seluruh pengguna jalan,” tutup Tohari.
Insiden tersebut kembali menjadi pengingat bahwa keselamatan di perlintasan sebidang tidak hanya bergantung pada teknologi maupun petugas, tetapi juga disiplin seluruh pengguna jalan. Di tengah duka yang tak dapat diputar kembali, empati menjadi langkah pertama, sementara evaluasi dan peningkatan keselamatan menjadi pekerjaan yang harus terus berjalan.(hms/an)










