Temu Ilmiah Nasional II Digelar di Surabaya, Persagi: Perkuat Program MBG dan Upaya Turunkan Stunting

Penulis: Harun E
Editor: S.Pono Eno
Ket Foto: Persagi menggelar TIN II di Surabaya, diikuti peserta dari 31 Provinsi, MBG Dongkrak Ekonomi 5,9 Persen dan Turunkan Stunting Jatim.

Filesatu.co.id, Surabaya | Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menggelar Temu Ilmiah Nasional (TIN) II selama dua hari, 4–5 Juli 2026, di Hotel Trans Luxury Surabaya. Kegiatan ini diikuti anggota Persagi dari berbagai daerah, peserta umum, serta peserta fullboard sebagai ajang bertukar ilmu, inovasi, dan penguatan kebijakan di bidang gizi.

Beragam agenda ilmiah diselenggarakan dalam TIN II, di antaranya Plenary Session, Simposium AsDI, Simposium ISNA, Simposium AsNI, Simposium Konsil dan Kolegium Gizi, serta Workshop SPPG. Forum tersebut menjadi wadah bagi para ahli gizi dari seluruh Indonesia untuk merumuskan rekomendasi berbasis ilmiah dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional.

Bacaan Lainnya

Mengusung tema Sinergi Keamanan Pangan, Ketahanan Gizi, Kesehatan Saluran Cerna, dan Edukasi Gizi dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka secara resmi TIN II Persagi. Dalam sambutannya, Adhy menegaskan bahwa forum ilmiah ini sangat penting untuk memperkuat keamanan pangan, ketahanan gizi, serta edukasi masyarakat dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.

“Forum ini menjadi ruang konferensi ilmiah untuk membahas ketahanan pangan, ketepatan gizi, keamanan pangan, hingga penguatan edukasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

Adhy menjelaskan, Program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan anak-anak, pelajar, santri, ibu hamil, dan balita, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di Jawa Timur.

Menurutnya, ekosistem MBG melibatkan banyak sektor, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga distributor bahan pangan. Keterlibatan berbagai sektor tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dampak Program MBG bukan hanya pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui pemberdayaan petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku distribusi pangan,” jelasnya.

Adhy mengungkapkan, salah satu indikator keberhasilan pembangunan gizi di Jawa Timur adalah menurunnya prevalensi stunting dari 17,7 persen menjadi 14,7 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 mencapai sekitar 5,9 persen atau mendekati 6 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur juga mendapat kontribusi dari meningkatnya aktivitas UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem Program Makan Bergizi Gratis,” ungkap Adhy kepada awak media.

Ia menambahkan, pelaksanaan MBG juga membuka lapangan pekerjaan baru sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, baik di Jawa Timur maupun secara nasional.

Sementara Deputi Kementerian UMKM, M Riza Adha Damanik, juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, atas upaya luar biasa, sehingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil, baik dari sisi perluasannya, dan yang kedua khususnya melibatkan UMKM dalam rantai pasok.

“Dari pak sekda tadi triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi cukup baik angkanya, dan itu tidak lain didukung oleh rantai pasok, pergerakan ekonomi, dari program MBG yang melibatkan petani, nelayan, peternak, perkebun, pedagang pasar, UMKM. Sehingga program ini kita lihat satu sisi berkontribusi terhadap program kesehatan anak-anak generasi kita, dan yang kedua menggerakkan ekonomi daerah,” kutipnya.

Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Persagi yang hari hadir 31 provinsi DPD, ahli-ahli gizi, dari seluruh Indonesia. “Ahli-ahli gizi kita, yang punya dedikasi, keinginan terlibat dalam rangka menjaga kualitas penyaluran makanan yang disajikan itu semakin sehat, baik.

“Kami menyambut baik inisiatif dari Persagi untuk membangun kerja sama, tidak lain untuk mendorong lahirnya nutri-preneur, yang satu sisi mereka punya keahlian gizi, dan di sisi lain mereka bisa menjadi pengusaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan, berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Persagi, Doddy Izwardy, merekomendasi pertemuan ilmiah untuk program pembangunan gizi nasional oleh pemerintah. “Apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga dari Kementerian UMKM, serta PMK Bappenas,” ujarnya saat doorstop.

Ia menjelaskan, tujuan Persagi menyelenggarakan T1, T2 sampai T4 nantinya, karena banyak program pemerintah yang bagus, seperti stunting, alasannya banyak kehilangan waktu karena tidak terjadi diskusi.

“Memang program yang paling harus kita kembalikan lagi, pemberian makanan, kepada berdampak 1.000 hari kehidupan, mulai ibu hamil sampai anak baduta, dan termasuk anak PAUD sampai SMA itu sebenarnya program paling strategis di dunia, di mana negara maju sudah melaksanakan,” ungkapnya.

Nah, Persagi pada hari ini, sambung Doddy, dalam rangka menjaga mutu pembangunan gizinya, caranya hingga tahun 2029 keliling ke partai-partai untuk menyerahkan dokumen upaya menjaga pembangunan gizi di Indonesia.

“Persagi memposisikan pangan itu sebagai keamanan, dan kedua ketahanan gizi, supaya mutu yang diberikan berkualitas, juga bagaimana paling penting memberikan edukasi. Sehingga hasil dari seminar ini nantinya akan kita serahkan kepada presiden, sehingga pada saat pemilu akbar nanti,” timpalnya.

Doddy kembali menegaskan posisi Persagi, bahwa untuk masa depan Indonesia. “Tujuan kita 2045 bagaimana stunting harus 5 persen. Nah kami lah yang coba memberikan ke pemerintah. Karena kami bukan audiens pemerintah, tapi kami kepakaran dari profesi. Kalau masalah gizi gagal, terjadi kelaparan, yang pertama malu adalah para ahli gizi,” tegasnya.

Namun di sini, menurut Doddy, Persagi melihat keberhasilan, yang pertama provinsi Bali dan kedua Jawa Timur yang mendorong keberhasilan penurunan angka stunting 14 persen. “Dan angka kita (nasional, red) baru 19,88, kita khawatir naik lagi, tapi dengan MBG ini harapannya 2029 stunting turun 14,4 %,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *