Filesatu.co.id, Magetan | Sejumlah awak media di Kabupaten Magetan mengungkapkan kekecewaan mereka terkait pembatasan peliputan pada ajang Gubernur Cup Road Race yang digelar baru-baru ini. Kebijakan tersebut mewajibkan jurnalis menggunakan ID card resmi dari panitia, sehingga sejumlah wartawan tidak dapat menjalankan tugasnya.
Pembatasan ini menuai kritik karena dinilai tidak mengakomodasi jumlah media lokal yang cukup banyak. Dari informasi yang dihimpun, panitia hanya menyediakan sekitar 20 ID card, sementara jumlah media aktif di Magetan diperkirakan melebihi 50.
Salah satu jurnalis lokal menilai kebijakan tersebut kurang tepat, mengingat kehadiran media sejatinya untuk mendukung publikasi kegiatan.
“Kami hadir untuk meliput dan membantu publikasi, bukan mengganggu. Tapi justru tidak diperbolehkan masuk karena tidak memiliki ID card dari panitia,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti minimnya komunikasi antara panitia dan komunitas media lokal. Menurutnya, koordinasi yang lebih terbuka sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Situasi serupa juga dialami seorang wartawan yang telah mengantongi penugasan resmi dari dinas untuk meliput kegiatan bupati. Namun, ia tetap tidak diperkenankan masuk lokasi karena tidak memiliki ID card panitia, sehingga terpaksa membatalkan peliputan.
Ketua PWMOI Magetan, Agus Suyanto, turut menyayangkan kebijakan tersebut. Ia berharap ke depan ada koordinasi yang lebih baik agar tidak merugikan media lokal dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Jika memang diperlukan ID card, harus ada sosialisasi yang jelas. Kominfo juga bisa dilibatkan agar informasi tersampaikan ke seluruh media, sehingga tidak terjadi miskomunikasi,” tegasnya.
Para jurnalis berharap peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kegiatan agar lebih terbuka dan inklusif terhadap media. Mereka menegaskan bahwa peran pers sangat penting dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat.





