Sendratari Segoro Topeng Kaliwungu, Pesona Budaya Lumajang untuk Indonesia 

Penulis: Adi

Filesatu.co.id, Lumajang | Kemeriahan Sendratari Segoro Topeng Kaliwungu 2026 telah usai, namun promosi budaya dan wisata Kabupaten Lumajang justru terus berlanjut. Ratusan karya fotografi dari para peserta lomba kini menjadi “duta digital” yang memperkenalkan pesona Lumajang ke khalayak lebih luas.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Kabupaten Lumajang menghadirkan Lomba Fotografi sebagai bagian dari rangkaian Kharisma Event Nusantara KEN Segoro Topeng Kaliwungu 2026 di Pantai Watu Pecak. Sebanyak 105 fotografer dari Lumajang dan berbagai daerah ikut ambil bagian.

Para peserta tidak hanya mengabadikan kemegahan Sendratari Segoro Topeng, tetapi juga merekam panorama Pantai Watu Pecak, aktivitas UMKM, hingga antusiasme ribuan pengunjung yang memadati kawasan festival.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang Mustaqim mengatakan, promosi daerah di era digital tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Komunitas kreatif, khususnya fotografer, memiliki peran penting membangun citra positif melalui karya visual yang autentik.

“Pesan Ibu Bupati Indah Amperawati jelas, Segoro Topeng Kaliwungu harus dibantu dipromosikan secara luas. Kami berharap setiap foto tidak hanya menjadi karya, tetapi juga cerita yang mengajak masyarakat mengenal budaya, alam, dan potensi Lumajang. Ketika foto-foto itu dibagikan, promosi Lumajang terus berjalan,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).

Menurut Mustaqim, setiap foto yang diunggah ke media sosial berpotensi menjadi media promosi efektif. Karya visual mampu menjangkau audiens lebih luas, menumbuhkan ketertarikan terhadap destinasi wisata, sekaligus memperkuat identitas Lumajang di ruang digital.

Antusiasme peserta lomba cukup tinggi. Markus Karang Suroyo, fotografer asal Jember, mengaku terkesan dengan konsep acara yang memberikan banyak sudut menarik untuk diabadikan.

“Konsepnya sangat menarik dan memberi ruang bagi fotografer untuk bercerita lewat gambar. Saya tidak hanya memotret pertunjukannya, tetapi juga menangkap suasana, ekspresi masyarakat, dan keindahan pantainya. Semua itu layak dibagikan,” ungkap Markus.

Apresiasi serupa datang dari peserta luar daerah, termasuk Jakarta. Mereka menilai penyelenggaraan event berlangsung baik, tanpa biaya pendaftaran, didukung konsumsi dan hadiah bagi pemenang. Sejumlah masukan juga disampaikan, seperti penataan ruang khusus fotografer dan peningkatan koordinasi teknis.

Panitia Lomba Fotografi Segoro Topeng Kaliwungu 2026, Mohamad Zainuri, menyambut positif masukan tersebut.

“Masukan dari para fotografer menjadi energi bagi kami untuk terus berbenah. Harapannya, Segoro Topeng Kaliwungu dapat tampil semakin spektakuler dan memberikan pengalaman terbaik bagi peserta maupun pengunjung,” katanya.

Penggerak Ekonomi Kreatif dan Pariwisata  

Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai keberhasilan event budaya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung. Kemampuan membangun jejak digital yang kuat juga menjadi indikator penting. Jejak digital itu diyakini mampu memperkuat promosi pariwisata, menggerakkan ekonomi kreatif UMKM, serta menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung di masa mendatang.

Dengan ratusan foto Segoro Topeng Kaliwungu yang tersebar di berbagai platform, Lumajang menunjukkan bahwa budaya menjadi konten promosi paling kuat. Dari bidikan kamera, Lumajang terus bercerita kepada Indonesia dan dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *