Filesatu.co.id, MADIUN | Keselamatan perjalanan kereta api tidak hanya ditentukan oleh keandalan sarana dan prasarana, tetapi juga kualitas kesehatan sumber daya manusia yang mengoperasikannya. Berangkat dari semangat itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun menggelar Talkshow dan Dialog Interaktif bertajuk “Pencegahan HIV/AIDS di Lingkungan Kerja dan Keluarga”, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut diikuti insan KAI Daop 7 dari berbagai wilayah kerja. Acara dibuka oleh Deputy Vice President Daop 7 Madiun, Alam Prasetyo, didampingi Manager Kesehatan Daop 7, dengan menghadirkan narasumber drh. Titik Sugianti, Ketua LSM Bambu Nusantara sekaligus aktivis perempuan.
Alam Prasetyo menjelaskan, edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari upaya perusahaan menjaga kualitas SDM. Menurutnya, berdasarkan data nasional, Jawa Timur masih termasuk provinsi dengan angka kasus HIV/AIDS yang tinggi sehingga diperlukan kewaspadaan bersama, terutama bagi pekerja usia produktif.
“Kami mengimbau seluruh insan KAI Daop 7 untuk terus menjaga pergaulan, menerapkan gaya hidup sehat, dan membentengi keluarga. Kesehatan pekerja adalah aset utama perusahaan,” ujar Alam.
Dalam pemaparannya, drh. Titik Sugianti memberikan edukasi mengenai pola penularan HIV yang benar, langkah pencegahan, pentingnya deteksi dini, hingga menghapus berbagai stigma yang selama ini masih melekat kepada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Para peserta juga mendapat kesempatan mendengarkan langsung pengalaman hidup seorang penyintas ODHA sebagai upaya membangun empati dan pemahaman yang lebih utuh.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menegaskan bahwa kepedulian terhadap kesehatan pekerja bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari strategi menjaga keberlangsungan layanan transportasi publik.
Menurutnya, bisnis perkeretaapian sangat bergantung pada SDM yang sehat, produktif, dan siap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, langkah pencegahan penyakit, termasuk HIV/AIDS, merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan operasional perusahaan.
“Jika pekerja di sektor operasional maupun pelayanan publik mengalami gangguan kesehatan tanpa penanganan yang tepat, tentu dapat berdampak pada produktivitas hingga kualitas pelayanan. Karena itu, edukasi menjadi langkah preventif agar seluruh kru, masinis, petugas stasiun maupun pegawai kantor tetap berada dalam kondisi prima,” terang Tohari.
Ia menambahkan, pemahaman yang benar mengenai HIV/AIDS juga penting untuk menghilangkan diskriminasi terhadap ODHA di lingkungan kerja sehingga tercipta suasana kerja yang sehat, inklusif, dan saling mendukung.
“Melalui sinergi edukasi ini, diharapkan seluruh pekerja KAI Daop 7 Madiun semakin memahami pentingnya pencegahan HIV/AIDS mulai dari lingkungan keluarga hingga tempat kerja, mampu menghilangkan stigma terhadap ODHA, serta bersama-sama mewujudkan ekosistem perusahaan yang sehat guna mendukung layanan transportasi kereta api yang aman, andal, dan terpercaya bagi masyarakat,” pungkas Tohari.(hms/an)










