Filesatu.co.id, SIDOARJO | Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Kelurahan Urang Agung, Kecamatan Sidoarjo, diawali pada Sabtu sore hingga malam dilanjutkan Minggu (26/7/2026). Sejak pagi hingga malam hari, warga bersama Paguyuban Situs Sendang Agung, pegiat budaya, tokoh masyarakat, dan para pengunjung bergandengan tangan memasang paving di kawasan Situs Sendang Agung sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian salah satu jejak sejarah penting di Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan tersebut bukan sekadar penataan lingkungan situs, tetapi juga menjadi wujud kepedulian masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, spiritual, sosial, dan pendidikan bagi generasi mendatang.
Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung, Siswo, mengatakan pelestarian Situs Sendang Agung merupakan upaya menjaga jejak sejarah dan peradaban yang menjadi bagian dari identitas Kabupaten Sidoarjo. Menurutnya, situs tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bukti perjalanan sejarah yang membentuk jati diri masyarakat dan harus diwariskan kepada generasi penerus.
“Situs Sendang Agung bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi bukti perjalanan sejarah yang membentuk jati diri masyarakat Sidoarjo. Melestarikannya berarti menjaga warisan leluhur sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus,” ujarnya.
Siswo menambahkan, pelestarian situs tidak cukup dilakukan melalui perawatan fisik, tetapi juga harus dihidupkan melalui berbagai kegiatan budaya dan edukasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal sejarah daerahnya.
Usai kerja bakti, warga dan para pegiat budaya menggelar sarasehan sederhana sambil menikmati hidangan yang disiapkan secara swadaya. Suasana kebersamaan itu mencerminkan kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap Situs Sendang Agung sebagai bagian dari sejarah dan jati diri Sidoarjo.
Dalam kesempatan tersebut, Juru Kunci Situs Sendang Agung, Gintono (Cak Kin), menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya bukan hanya bertujuan menjaga kawasan bersejarah, tetapi juga merawat nilai-nilai peradaban yang diwariskan para leluhur.
Menurut Gintono (Cak Kin), Situs Sendang Agung merupakan bagian dari identitas sejarah Sidoarjo yang harus terus dijaga keberadaannya. Pelestarian situs akan memberikan manfaat sebagai ruang edukasi sejarah, penguatan karakter kebangsaan, sekaligus sarana mengenalkan kearifan lokal kepada generasi muda.
Siswo menjelaskan, Paguyuban Situs Sendang Agung telah menyiapkan berbagai program pelestarian budaya yang dipusatkan di kawasan situs, di antaranya pagelaran gamelan Jawa, pelatihan tari tradisional, sendratari, drama klasik, jaranan, barongan, ludruk, serta tradisi tahunan Renungan Budaya dan Kirab Tumpeng Tujuh pada Bulan Suro.
“Kami berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberi perhatian lebih terhadap Situs Sendang Agung agar dapat berkembang sebagai pusat pelestarian sejarah, budaya, dan edukasi bagi masyarakat,” tegas Siswo.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Urang Agung menjadi bukti bahwa penyelamatan situs bersejarah tidak selalu bergantung pada anggaran besar. Kepedulian masyarakat, rasa memiliki, dan partisipasi bersama merupakan fondasi utama dalam menjaga warisan budaya agar tetap lestari.
Pelestarian Situs Sendang Agung juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menegaskan bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan sehingga wajib dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Situs Sendang Agung bukan sekadar peninggalan masa lampau, melainkan jejak peradaban yang merekam perjalanan sejarah Sidoarjo. Keberadaannya menjadi penyangga identitas budaya daerah sekaligus ruang pembelajaran yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karena itu, pelestariannya memerlukan dukungan bersama dari masyarakat dan pemerintah agar warisan sejarah tersebut tetap lestari dan menjadi kebanggaan generasi yang akan datang.***











