Dari Warna, Daun, hingga Jeruk: KKM Cakrarta Nyalakan Kreativitas Warga Sukodadi

Penulis: Aat
Editor: Eno Filesatu

Filesatu.co.id, Malang | Pengabdian tidak selalu harus datang dengan hal besar. Kadang ia hadir lewat pensil warna, sehelai daun, tumpukan limbah, atau buah jeruk di halaman rumah.

Bacaan Lainnya

Itulah yang dilakukan sembilan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa Unggulan Fakultatif Cakrarta06 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Dusun Genderan, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Azka, Syerli, Zahra, May, Iir, Andrew, Yunifa, Nayla, dan Sela. Sembilan nama itu hadir bukan untuk seremoni. Mereka membawa kegiatan yang dekat dengan keseharian warga diantaranya anak sekolah, ibu-ibu PKK, hingga warga yang biasa berkumpul saat tahlilan.

Seperti anak kelas 1-3 diajak mewarnai. Bukan sekadar mewarnai. Gambar hasil karya mereka kemudian ditempel di “DIY Tabungan” buatan sendiri.

Dari kegiatan sederhana itu, anak-anak belajar dua hal sekaligus: bahwa belajar bisa menyenangkan, dan bahwa menabung bisa dimulai dari hal kecil.

Kegiatan berlanjut keesokan harinya, giliran siswa kelas 4-6 berkenalan dengan eco printing. Daun-daun yang biasanya berserakan di halaman, disusun di atas kain. Dari tekanan sederhana lahir motif alami yang kemudian jadi taplak meja.

“Alam tidak selalu harus dibeli untuk jadi indah. Kadang cukup diperhatikan,” pesan yang ingin disampaikan tim Cakrarta.

Cerita berlanjut ke Dusun Genderan. 

Jumat, 14 Agustus 2026, bertepatan dengan tahlilan warga, mahasiswa mengenalkan arang briket dari limbah biomassa. Suasananya cair. Tidak seperti kelas.

Pertanyaan warga pun muncul: “Kalau dari limbah, berarti sampah bisa jadi bahan bakar?”

Syahila Syerli Nur Fitria, mahasiswa Kimia UIN Malang, menjelaskan faktor yang memengaruhi kualitas briket: bahan baku, kadar air, perekat, hingga kepadatan. Pelan-pelan warga diajak melihat ulang “sampah” yang selama ini dibuang.

Sehari setelahnya, Sabtu 15 Agustus 2026, giliran ibu-ibu PKK RT 16. Lewat program JERUKKU, jeruk hasil panen warga diolah jadi gummy.

Selepas Magrib, di rumah salah satu warga, Syerli memandu prosesnya jeruk, gula, lemon, dan gelatin dicampur, dicetak, lalu jadi camilan.

Tapi bukan soal rasanya saja. Di balik gummy itu ada gagasan: hasil pertanian bisa punya nilai tambah. UMKM bisa tumbuh kalau dibarengi pengetahuan tentang higienitas dan sertifikasi halal.

Responsnya hangat. Gummy jeruk disukai ibu-ibu. Ada tawa, ada tanya, ada semangat mencoba di rumah.

Sembilan Nama, Satu Gagasan

Azka, Syerli, Zahra, May, Iir, Andrew, Yunifa, Nayla, dan Sela mungkin hanya sembilan mahasiswa.

Tapi di Sukodadi mereka dikenang lewat hal-hal kecil: warna di tabungan anak, motif daun di taplak, obrolan tentang briket, dan rasa gummy jeruk.

KKM Cakrarta06 seolah menanamkan satu pesan: kreativitas tumbuh ketika pengetahuan bertemu dengan apa yang sudah ada di sekitar kita.

Di Sukodadi, pengetahuan itu tidak hanya didengar.  Ia diwarnai, disentuh, dicetak, lalu dibawa pulang menjadi pengalaman. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *