Filesatu.co.id, KARAWANG | Pembangunan kembali Masjid Jami Syekh Quro Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, membutuhkan uluran tangan masyarakat dan para donatur. Panitia pembangunan memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai Rp1,121 miliar untuk mewujudkan masjid yang lebih layak, aman, nyaman, sekaligus mampu melayani kebutuhan jamaah dan peziarah.
Masjid yang berada di kawasan Pulobata tersebut memiliki nilai sejarah penting karena berkaitan dengan jejak dakwah Syekh Quro di Karawang. Karena itu, pembangunan masjid tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan sarana ibadah yang lebih representatif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memuliakan dan menjaga peninggalan sejarah Syekh Quro.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Jami Syekh Quro, H. Nandang Hilman, S.H., mengatakan pembangunan kembali masjid menjadi kebutuhan yang harus mendapat perhatian bersama.
Menurutnya, kondisi masjid saat ini sudah tidak lagi memadai untuk kebutuhan jamaah, terutama ketika Salat Jumat dan hari-hari besar Islam. Keterbatasan daya tampung serta kondisi bangunan dan fasilitas pendukung menjadi alasan pembangunan kembali perlu dilakukan.
“Masjid ini membutuhkan pembangunan kembali agar masyarakat memiliki tempat ibadah yang lebih layak, aman dan nyaman. Karena itu, kami mengajak masyarakat dan para donatur untuk bersama-sama membantu pembangunan ini,” kata Nandang.
Ia menegaskan, pembangunan Masjid Jami Syekh Quro Pulobata tidak semata-mata mengejar berdirinya sebuah bangunan baru. Lebih dari itu, masjid diharapkan kembali menjadi pusat ibadah, pendidikan agama, dakwah dan kegiatan sosial masyarakat.
Panitia menyadari kebutuhan pembangunan cukup besar. Berdasarkan perhitungan anggaran, total biaya yang diperlukan mencapai Rp1.120.879.500 atau dibulatkan menjadi Rp1.121.000.000.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat panitia tidak mungkin bekerja sendiri. Dukungan masyarakat, para donatur, pengusaha, organisasi, komunitas maupun pihak lain yang memiliki kepedulian sangat dibutuhkan agar pembangunan dapat berjalan secara bertahap.
“Kami sangat membutuhkan dukungan. Pembangunan ini merupakan kepentingan bersama. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, tentu sangat berarti bagi kelangsungan pembangunan masjid,” ujarnya.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan yang diharapkan mampu menggerakkan pembangunan Masjid Jami Syekh Quro. Panitia membuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi sesuai kemampuan, baik melalui bantuan dana, material bangunan, tenaga maupun bentuk dukungan lainnya.
Pembangunan masjid dirancang mencakup berbagai pekerjaan utama, mulai dari struktur bangunan, dinding dan ornamen, atap, pintu dan jendela, plafon, lantai, kelistrikan, pengecatan, pencahayaan hingga perlengkapan pendukung.
Pekerjaan struktur menjadi salah satu kebutuhan terbesar dengan anggaran sekitar Rp328,79 juta. Pekerjaan tersebut meliputi pondasi, kolom, sloof dan ring balok.
Selanjutnya, pekerjaan dinding dan ornamen membutuhkan sekitar Rp229,66 juta, sedangkan pekerjaan atap dan dak serambi mencapai sekitar Rp133,33 juta.
Untuk pekerjaan pintu dan jendela, kebutuhan anggaran mencapai Rp112,75 juta. Pekerjaan plafon sekitar Rp94,32 juta, sedangkan pekerjaan lantai membutuhkan sekitar Rp103,07 juta.
Anggaran lainnya mencakup pekerjaan kelistrikan sekitar Rp5,49 juta, pengecatan dan pembersihan lokasi sekitar Rp18,45 juta, lighting dan visual sekitar Rp45 juta, serta ornamen variasi sekitar Rp50 juta.
Dengan keseluruhan kebutuhan tersebut, pembangunan Masjid Jami Syekh Quro membutuhkan dana sekitar Rp1,121 miliar.
Nandang mengatakan pembangunan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan pendanaan yang tersedia.
“Kami ingin pembangunan ini berjalan bertahap dan terus bergerak. Yang paling penting, pembangunan tidak berhenti dan pada akhirnya masjid ini bisa berdiri serta digunakan secara maksimal oleh masyarakat,” katanya.
Pembangunan tersebut juga memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Syekh Quro dikenal sebagai ulama bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik yang berasal dari Champa dan datang ke wilayah Karawang untuk menyebarkan ajaran Islam.
Jejak dakwah Syekh Quro kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Karawang. Kawasan Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, juga dikenal sebagai salah satu lokasi yang berkaitan dengan perjalanan dakwah dan perjuangan Syekh Quro.
Karena itu, keberadaan masjid di kawasan tersebut memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah dan nilai-nilai perjuangan Syekh Quro kepada generasi berikutnya.
“Kami ingin masjid ini bukan hanya menjadi tempat salat. Kami berharap bisa menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan dan sosial masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kawasan wisata religi Syekh Quro,” ujar Nandang.
Kawasan Pulokalapa juga menjadi lokasi kompleks makam Syekh Quro yang masih ramai dikunjungi peziarah. Kehadiran masjid yang lebih layak diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi jamaah maupun peziarah yang datang.
Panitia pembangunan pun kini mengetuk pintu kepedulian masyarakat. Ajakan bantuan diarahkan sebagai shodaqoh jariyah untuk ikut mewujudkan rumah ibadah yang manfaatnya diharapkan terus dirasakan masyarakat.
“Kami mengetuk pintu hati masyarakat dan para donatur. Mari bersama-sama membangun masjid ini. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dengan gotong royong, insyaallah pembangunan ini bisa terwujud,” kata Nandang.
Panitia berharap dukungan tidak hanya datang dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari para dermawan di berbagai daerah yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan rumah ibadah dan pelestarian peninggalan sejarah Islam di Karawang.
Setiap bantuan, berapa pun nilainya, diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembangunan. Bantuan tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangunan masjid sesuai tahapan pekerjaan yang telah direncanakan.
Masjid Jami Syekh Quro diharapkan nantinya menjadi tempat ibadah yang mampu menampung lebih banyak jamaah, memberikan kenyamanan bagi peziarah serta menjadi ruang bagi berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.
Pembangunan ini pada akhirnya bukan hanya tentang batu, semen, atap atau menara. Ada sejarah yang ingin dijaga, ada kebutuhan masyarakat yang harus dijawab dan ada rumah ibadah yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Karena itu, panitia kembali mengajak masyarakat dan para donatur untuk ikut mengambil bagian.
Bagi para donatur yang ingin berpartisipasi, bantuan dapat disalurkan melalui Bank BJB nomor rekening 0161791164100 atas nama DKM Masjid Syekh Quro Pulobata.
“Semoga menjadi amal jariyah yang tak terputus. Jazakumullah khairan,” demikian harapan panitia.
Satu uluran tangan hari ini dapat menjadi bagian dari berdirinya rumah ibadah yang manfaatnya terus mengalir untuk masyarakat dan generasi mendatang.***










