Filesatu.co.id, Madiun | Volume penumpang kereta api di wilayah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mencetak rekor tertinggi pada H+2 Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.
Pada momentum tersebut, total penumpang yang naik dan turun di stasiun wilayah Daop 7 Madiun mencapai 31.055 pelanggan. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada Lebaran H+2 tahun 2025 yang tercatat sebanyak 26.838 pelanggan.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan volume keberangkatan pada hari kedua Lebaran mencapai 16.307 penumpang, menjadi yang tertinggi sepanjang masa angkutan Lebaran 2026 yang dimulai sejak 11 Maret.
“Adapun jumlah kedatangan sebanyak 14.748 penumpang. Sementara itu, pada H2+1 Lebaran atau Senin (23/3/2026) berdasarkan data, tercatat angka keberangkatan sebanyak 14.950 penumpang dan volume kedatangan sebanyak 11.723 penumpang. Angka ini akan terus merangkak naik seiring dengan keberangkatan dan kedatangan KA hingga tengah malam nanti,” ujar Tohari, Senin (23/3/2026).
Tohari menambahkan, ketersediaan tiket hingga 1 April 2026 masih tersisa 815 tempat duduk untuk keberangkatan dari wilayah Daop 7 Madiun.
“Namun masyarakat tidak perlu khawatir karena dapat memanfaatkan ketersediaan tempat duduk dari KA-KA yang melintasi wilayah Daop 7 Madiun,” katanya.
Ia menyebut arus kedatangan masih terpantau tinggi, dengan puncak kedatangan terjadi pada Rabu (18/3/2026) atau H-3 Lebaran sebanyak 15.131 penumpang. Sementara itu, puncak keberangkatan terjadi pada H+2 Lebaran dengan jumlah 16.307 penumpang.
Secara akumulatif, selama masa angkutan Lebaran 11–23 Maret 2026, KAI Daop 7 Madiun telah melayani 109.129 penumpang naik dan 161.703 penumpang turun.
Tohari mengimbau penumpang untuk memastikan jadwal keberangkatan dan mengatur waktu perjalanan menuju stasiun agar tidak terburu-buru.
“Di sisi lain, masyarakat juga diimbau kembali untuk segera melakukan pemesanan tiket balik agar tidak kehabisan. Tiket dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI, website kai.id, dan kanal mitra kerja sama resmi lainnya,” ujarnya.
Ia juga menyarankan masyarakat memanfaatkan fitur kereta persambungan sebagai alternatif perjalanan.
“Masyarakat juga dapat memanfaatkan fitur Connecting Train atau Kereta Persambungan sebagai opsi untuk mendapatkan alternatif kereta api menuju relasi yang diinginkan,” tutup Tohari.(hms/anwar)










