Filesatu.co.id, Sampang | Proyek rabat beton di Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, menjadi sorotan. Pasalnya, bangunan yang dibiayai Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp68.902.000 itu sudah mengalami keretakan dan pengelupasan meski baru sekitar satu bulan selesai dikerjakan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (13/10/2026), sejumlah bagian rabat beton terlihat retak. Permukaannya pun mulai mengelupas, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas hasil pekerjaan tersebut.
Seorang warga setempat mengatakan, proyek rabat beton itu baru selesai sekitar satu bulan lalu. Namun, warga mengaku hanya mengetahui bahwa pembangunan tersebut bersumber dari Dana Desa.
“Proyek rabat beton tersebut kabarnya dari Dana Desa. Itu baru selesai dikerjakan sekitar satu bulan yang lalu,” ungkapnya, Rabu (14/10/2026).
Penjabat (Pj) Kepala Desa Gunung Eleh, Holilah, membenarkan proyek tersebut menggunakan Dana Desa dengan anggaran Rp68.902.000.
Menurut Holilah, pekerjaan rabat beton itu memiliki volume panjang 135 meter, lebar 2 meter, dan ketebalan 15 sentimeter.
Saat dikonfirmasi mengenai kerusakan tersebut, Holilah menyebut keretakan terjadi akibat cuaca panas. “Itu dari Dana Desa dengan anggaran Rp68.902.000, retak karena cuacanya panas,” katanya.
Meski demikian, belum ada hasil pemeriksaan teknis yang memastikan penyebab keretakan dan pengelupasan beton tersebut. Kesesuaian kualitas pekerjaan dengan spesifikasi teknis juga belum diketahui.
Selain kerusakan fisik, transparansi proyek turut menjadi perhatian. Saat pemantauan, papan informasi proyek maupun batu prasasti tidak ditemukan di lokasi pembangunan.
Holilah menjelaskan, papan informasi sebelumnya telah dipasang saat pekerjaan berlangsung. Namun, setelah proyek selesai, papan tersebut dicabut dan diganti dengan batu prasasti.
“Papan informasi ada. Karena sudah selesai, papan dicabut dan diganti prasasti,” terangnya.
Namun, keberadaan batu prasasti yang disebut sebagai pengganti papan informasi itu belum dapat dipastikan saat pemantauan dilakukan. Holilah juga belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keberadaan prasasti dan langkah penanganan kerusakan hingga berita ini diturunkan. (Fal)









