Filesatu.co.id, Banyuwangi | Menjelang perayaan Iduladha, masyarakat diimbau lebih teliti dalam memilih dan mengolah daging kurban. Pasalnya, daging yang tidak layak konsumsi dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari keracunan hingga infeksi bakteri berbahaya.
Daging kurban yang masih segar umumnya berwarna merah cerah, bertekstur kenyal, dan tidak mengeluarkan bau menyengat. Sebaliknya, daging yang sudah mulai rusak atau busuk memiliki sejumlah tanda yang mudah dikenali.
Beberapa ciri daging kurban yang tidak layak konsumsi di antaranya mengeluarkan bau asam, amis busuk, atau menyengat. Permukaan daging juga biasanya berlendir, berubah warna menjadi gelap atau pucat, serta memiliki tekstur lembek dan tidak kenyal. Dalam kondisi tertentu, daging bahkan dapat ditumbuhi jamur.
Masyarakat juga diminta memperhatikan cara pengolahan daging agar tetap aman dikonsumsi. Daging sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang untuk membantu membunuh bakteri dan parasit yang mungkin masih menempel.
Selain itu, daging segar tidak dianjurkan dicuci menggunakan air mentah karena berisiko membawa kontaminasi bakteri ke permukaan daging. Penanganan yang higienis menjadi kunci utama menjaga kualitas daging kurban.
Dalam satu kali penyajian, konsumsi daging disarankan sekitar 75 hingga 100 gram agar tetap seimbang bagi kesehatan tubuh. Warga juga dianjurkan membatasi konsumsi bagian lemak dan organ dalam karena kandungan kolesterolnya cukup tinggi.
Proses distribusi daging kurban pun perlu diperhatikan. Daging idealnya sudah diterima warga maksimal 4 hingga 5 jam setelah penyembelihan agar kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Sementara itu, metode memasak dengan membakar langsung di atas api sebaiknya dihindari. Cara tersebut berpotensi menghasilkan zat berbahaya jika daging terlalu gosong.
Dengan penanganan yang tepat, momen Iduladha tidak hanya menjadi ibadah penuh makna, tetapi juga tetap aman dan sehat bagi seluruh keluarga.










