Membangunkan Sejarah yang Tertidur: Dari Sendang Agung, Generasi Sidoarjo Menjemput Jati Diri

Penulis: Didik
Editor: Redaksi

Filesatu.co.id, SODOARJO | REMBUK ekskavasi Sendang Agung menjadi titik awal kesadaran kolektif generasi Sidoarjo untuk menggali kembali jejak sejarah yang lama terpendam. Berlokasi di Kelurahan Urang Agung, potensi situs ini diyakini menyimpan fragmen penting perjalanan peradaban yang belum sepenuhnya terungkap. Kesadaran ini lahir dari kegelisahan bersama: bahwa banyak warisan budaya Sidoarjo masih “tertidur” dan menunggu untuk dibangunkan melalui langkah nyata (5/5/2026).

Diskusi sore hari yang digelar di situs sendang agung tidak hanya berorientasi pada satu titik, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar lebih luas untuk mengungkap berbagai situs bersejarah lain di Sidoarjo. Dalam forum tersebut juga disepakati bahwa upaya ini tidak berhenti di Sendang Agung saja, tetapi turut mencakup ikhtiar pelestarian dan pengungkapan Situs Alas Trik serta Candi Kedung Kras di Tulangan. Kesepakatan ini menjadi penegasan bahwa gerakan ini bersifat kolektif dan berkelanjutan, menyasar berbagai titik yang memiliki potensi cagar budaya.

Bacaan Lainnya

Para penggiat juga insan pers yang hadir menunjukkan komitmen kuat dalam gerakan ini. Mas Siswo, Mas Davit, dan Mas Joko dari Paguyuban Sendang Agung menjadi penggerak di tingkat lokal. Mas Latif sebagai staf Kabid Kebudayaan turut memberikan pandangan dari sisi teknis pemerintahan. Mas Fahmi, Ketua Lesbumi PCNU Sidoarjo, menghadirkan perspektif kultural yang mengakar, sementara M. Tri Kisnowo Hadi selaku Ketua PPI Sidoarjo memperkuat ide serta peran organisasi masyarakat dalam mendorong pelestarian sejarah.

Dalam prosesnya, langkah strategis mulai dirumuskan. Koordinasi dengan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) tidak dimaksudkan sebagai pengajuan proposal semata, melainkan lebih pada meminta arahan, pendampingan, dan masukan dalam penyusunan kajian yang komprehensif. Hal ini penting agar setiap rencana ekskavasi memiliki dasar ilmiah yang kuat dan sesuai dengan kaidah pelestarian cagar budaya.

Peluang pendanaan melalui dana abadi kebudayaan juga menjadi perhatian. Namun, kunci utamanya tetap pada kesiapan konsep dan dokumen pendukung yang matang. Dengan perencanaan yang tepat, upaya ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar berlanjut ke tahap implementasi.

Lebih jauh, gerakan ini membawa pesan penting bagi generasi penerus. Bahwa mengenal sejarah bukan sekadar melihat ke belakang, tetapi memahami siapa diri kita hari ini. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga Wakil Bupati Sidoarjo, menjadi energi moral yang memperkuat langkah ini agar terus berkelanjutan.

Jika upaya ini berjalan, maka dari Sendang Agung, bersama Situs Alas Trik dan Candi Kedung Kras, akan lahir kesadaran baru: bahwa sejarah Sidoarjo tidak hilang, hanya menunggu untuk dibangkitkan. Dan generasi hari ini adalah mereka yang memilih untuk menggali, menjaga, dan mewariskannya kembali. ***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *