Filesatu.co.id, KARAWANG | GELOMBANG massa yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Merah Putih menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan gerbang PT Pertiwi Lestari, Kawasan Industri Artha, Telukjambe Barat, Karawang, Senin (6/4). Aksi ini merupakan respons atas dugaan pemukulan dan intimidasi yang dialami aparatur Desa Wanasari oleh oknum sekuriti perusahaan pada akhir Maret lalu.
Sejak pagi, puluhan ribu perangkat desa dari berbagai penjuru Jawa Barat memadati lokasi. Menggunakan mobil komando, para orator bergantian menyuarakan tuntutan agar pihak perusahaan bertanggung jawab atas insiden yang dinilai telah mencederai marwah aparatur negara di tingkat desa tersebut.
Ketua APDESI Jawa Barat, Sukarya WK, menyatakan bahwa aksi massa ini merupakan puncak kekecewaan setelah jalur diplomasi yang mereka tempuh tidak diindahkan oleh pihak manajemen.
“Kami sudah dua kali melayangkan surat resmi kepada pihak perusahaan dalam kurun waktu 10 hari, namun sama sekali tidak ada tanggapan,” ujar Sukarya dengan tegas di hadapan massa.
Ia membenarkan adanya dugaan pengeroyokan yang melibatkan oknum keamanan internal perusahaan serta oknum organisasi masyarakat tertentu. Sukarya menyayangkan sikap perusahaan yang tertutup, padahal pihak desa sebelumnya telah mengedepankan langkah-langkah persuasif.
Senada dengan Sukarya, perwakilan APDESI Kabupaten Garut yang turut hadir di lokasi menegaskan bahwa insiden ini harus diselesaikan melalui jalur hukum. Ia mendesak kepolisian dan pihak perusahaan untuk menindak tegas pelaku kekerasan.
“Ini negara hukum. Perusahaan wajib memproses sekuriti yang melakukan pemukulan terhadap aparat Desa Wanasari. Kami masih menunggu itikad baik, namun jangan uji kesabaran kami,” ungkapnya.
Massa juga mengancam akan mengerahkan kekuatan yang lebih besar jika tuntutan mereka tetap diabaikan. Sebagai organisasi dengan jaringan lebih dari 70 ribu desa di seluruh Indonesia, APDESI mengklaim memiliki dukungan penuh dari anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk mengawal kasus ini hingga tuntas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketegangan antara Pemerintah Desa Wanasari dan PT Pertiwi Lestari bermula pada Selasa (31/3/2026). Insiden fisik tersebut diduga dipicu oleh sengketa terkait aset desa berupa 12 kabel optik yang berada di dalam kawasan perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Pertiwi Lestari belum memberikan keterangan resmi maupun menemui perwakilan massa untuk memberikan klarifikasi terkait tuntutan yang diajukan. Kondisi di depan gerbang perusahaan terpantau padat namun tetap terkendali di bawah pengawalan aparat keamanan. ***










