14 Perguruan Silat Blitar Desak PAW Ketua IPSI, Ingin Peran Nyata KONI Kabupaten Blitar

Ket Foto : Tampak dari kanan Berbaju hijau Adib Zamhari (Pagar Nusa), Ketua PSHT Cabang Kabupaten Blitar, Tugas Nanggolo Yudo Dili Prasetiono yang akrap disapa Bagas Karangsono, serta Imam Pamuji dari (Persaudaraan Rasa Tunggal) ) tiga perwakilan perguruan pencak silat menyerahkan surat mosi tidak percaya di kantor KONI kabupaten Blitar

Filesatu.co.id, Blitar | Konflik internal organisasi pencak silat di Kabupaten Blitar semakin terbuka ke publik. Sebanyak 14 perguruan pencak silat menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Ketua IPSI Kabupaten Blitar, Katiman, dalam forum silaturahmi antar perguruan yang digelar di RM Kenduri Kanigoro.

Pertemuan yang dihadiri berbagai perguruan itu berubah menjadi forum curahan keresahan. Mulai dari dugaan ketidaknetralan organisasi, persoalan legalitas, hingga keluhan pembinaan atlet dan pengelolaan keuangan IPSI menjadi sorotan utama.

Bacaan Lainnya

Meskipun mandiri dalam pemilihan pengurus, IPSI sebagai cabang olahraga anggota KONI yang berfungsi sebagai wadah koordinasi prestasi. KONI berperan dalam mengakui, mengesahkan, dan memberikan rekomendasi terhadap susunan kepengurusan IPSI yang sah.

Untuk itu 14 anggota perguruan pencak silat di kabupaten Blitar ingin KONI segera merekomendasi musyawarah seluruh anggota perguruan silat untuk merubah kepengurusan IPSI kabupaten Blitar saat ini yang terkesan hanya dikuasai segelintir orang. 14 Perguruan ingin peran nyata KONI agar prestasi atlet pencak silat kabupaten Blitar semakin berkembang dan bersinar.

Ketua PSHT Cabang Kabupaten Blitar, Tugas Nanggolo Yudo Dili Prasetiono yang akrap disapa Bagas Karangsono menilai kondisi IPSI Kabupaten Blitar saat ini sudah jauh dari semangat persatuan antar perguruan.

“IPSI seharusnya menjadi wadah bersama untuk membina atlet dan menjaga persaudaraan. Tetapi yang terjadi justru muncul kesan adanya kelompok yang lebih diprioritaskan dibanding perguruan lain,” ujarnya usai menyerahkan surat mosi tidak percaya kepada KONI Kabupaten Blitar di Kota Blitar, Selasa (26/05/2026).

Menurut Bagas, keresahan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Banyak perguruan selama ini memilih diam, namun akhirnya sepakat menyampaikan sikap bersama karena merasa tata kelola organisasi sudah tidak sehat.

“Banyak perguruan mengeluhkan hal yang sama, mulai dari event pertandingan, pembinaan atlet, sampai komunikasi organisasi yang dianggap tidak transparan. Ini yang memicu munculnya mosi tidak percaya,” ungkap Bagas yang juga Kades Karangsono tersebut.

Bagas juga menegaskan bahwa, para perguruan menginginkan IPSI kembali netral dan profesional tanpa berpihak pada golongan tertentu.

“Kalau organisasi olahraga sudah tidak netral, maka kepercayaan anggota pasti hilang. Yang dirugikan bukan hanya perguruan, tetapi juga masa depan atlet-atlet pencak silat di Kabupaten Blitar,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Persaudaraan Rasa Tunggal (Persatu), Imam Pamuji, mengungkapkan bahwa, pihaknya sudah lama mencoba menyampaikan persoalan organisasi kepada IPSI Kabupaten Blitar. Namun, menurut dia, berbagai aspirasi yang diajukan tidak pernah mendapat kepastian.

“Kami sudah menyampaikan persoalan sejak tahun lalu. Bahkan sampai mengurus legalitas dan berkonsultasi ke Kesbangpol maupun KONI karena merasa tidak ada kejelasan dari IPSI Kabupaten Blitar,” kata Imam Pamuji.

Imam Pamuji menyebut kondisi tersebut memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan perguruan. Karena itu, dirinya mendukung langkah sejumlah perguruan yang mendorong evaluasi total terhadap kepengurusan IPSI Kabupaten Blitar.

“Kami tidak ingin organisasi ini terus menjadi sumber polemik. Yang dibutuhkan sekarang adalah pembenahan dan kepemimpinan yang bisa merangkul semua perguruan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, sejumlah perguruan juga menyampaikan berbagai keluhan lain. Ada yang mengaku atletnya sulit lolos dalam pertandingan, ada pula yang mempertanyakan transparansi penggunaan iuran organisasi.

Perwakilan perguruan lain bahkan mengaku tidak pernah mendapatkan undangan kegiatan maupun bantuan pembinaan, meski rutin mengikuti kegiatan organisasi. Dugaan ketidakadilan dalam pelaksanaan event besar seperti Bupati Cup juga ikut mencuat dalam pembahasan.

Hasil pertemuan kemudian melahirkan kesepakatan bersama untuk menyusun surat resmi berisi aspirasi dan pengaduan kepada IPSI Kabupaten Blitar. Selain itu, para perguruan juga mendesak dilaksanakannya Pergantian Antar Waktu (PAW) Ketua IPSI Kabupaten Blitar sesuai mekanisme organisasi.

Mereka berharap langkah ini menjadi jalan untuk memperbaiki tata kelola organisasi agar lebih terbuka, profesional, dan mampu mengayomi seluruh perguruan pencak silat di Kabupaten Blitar.(Pram).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *