Filesatu.co.id, PRABUMULIH | PROGRAM perumahan RITTA yang berlokasi di kelurahan Majasari kecamatan Prabumulih Barat kota Prabumulih, yang digadang-gadang sebagai solusi bagi masyarakat berpenghasilan rendah justru berubah menjadi proyek setengah matang yang menyengsarakan warga. Alih-alih mendapatkan hunian layak, para penghuni malah harus bertahan hidup tanpa listrik dan air bersih, seolah-olah kembali ke zaman prasejarah!
Dari 100 unit rumah yang telah dibangun sejak tahun 2023, hingga kini mayoritas masih belum bisa dihuni dengan layak. Mirisnya lagi, penghuni yang sudah terpaksa tinggal di sana harus menyambung listrik darurat dengan kabel sepanjang 400 meter yang berserakan di tanah—sangat berisiko tersengat listrik dan membahayakan nyawa!
Seorang warga, Rasmana, mengaku tak punya pilihan lain selain menempati rumah tersebut meski kondisinya mengenaskan. “Saya nggak sanggup lagi bayar kontrakan, jadi terpaksa tinggal di sini. Listrik nggak ada, air bersih juga susah. Kami harus urunan beli kabel dan menyambung listrik dari tempat lain,” ujarnya getir.
instalasi air yang dijanjikan ternyata tak berfungsi optimal. Jika musim kemarau tiba, warga terpaksa membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari. Bukankah perumahan ini seharusnya memberikan kehidupan yang lebih baik, bukan malah menambah beban?
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Prabumulih, Maiduty, menjelaskan bahwa perumahan ini bukan sepenuhnya dibiayai APBD, sehingga segala sesuatu harus dilakukan bertahap.
“Semua masih butuh dianggarkan lagi tahun 2025,” kilahnya.
Sementara itu, eks Manajer ULP PLN Prabumulih, Gema Sabarani, menyebut bahwa PLN sudah menjalankan tugasnya memasang tiang listrik, tetapi meteran belum bisa terpasang karena masih menunggu pembayaran dari pihak pengelola. Lantas, ke mana anggaran yang seharusnya digunakan untuk memastikan fasilitas dasar ini berfungsi?
Alih-alih memberikan harapan bagi masyarakat kurang mampu, Perumahan RITTA justru menjadi mimpi buruk. Dengan listrik darurat yang berisiko memakan korban dan air bersih yang masih jadi angan-angan, proyek ini patut dipertanyakan: apakah ini solusi atau sekadar proyek mercusuar yang hanya bagus di atas kertas?
Jika pemerintah tak segera turun tangan, bukan tak mungkin perumahan ini akan berubah menjadi tragedi. Sampai kapan rakyat dibiarkan menderita? ***




