Filesatu.co.id, Sidoarjo | Kasus dugaan keracunan pangan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus ditangani pemerintah daerah.
Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo dengan cut off data Jumat (4/9/2026) pukul 07.00 WIB, tercatat sebanyak 748 santri dan siswa mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 pasien masih menjalani rawat inap (MRS). Sementara 726 pasien telah menjalani KRS (keluar dari rumah sakit) dan melanjutkan pemulihan melalui rawat jalan (RAJAL).
Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., mengatakan data tersebut merupakan hasil pendataan pasien yang memperoleh penanganan di sejumlah rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.
Kasus ini mayoritas berdampak pada santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin. Para santri diketahui menerima pasokan MBG dari SPPG Kalitengah.
Menurut Lakhsmie, pemerintah daerah masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para pasien, baik yang masih menjalani perawatan maupun yang telah diperbolehkan pulang.
Untuk memberikan waktu bagi proses penanganan dan pemulihan kondisi di lingkungan pesantren, kegiatan belajar mengajar (KBM) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam sementara dihentikan berdasarkan instruksi Bupati Sidoarjo Subandi.
“Ya jadi untuk situasi di pondok sendiri, berdasarkan instruksi Pak Bupati, KBM di sana dihentikan sementara sampai kondisi tenang,” ujar Lakhsmie.
Selain penghentian sementara kegiatan pembelajaran, pihak pondok memberikan kelonggaran kepada santri untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, kepulangan tersebut dilakukan dengan ketentuan dijemput oleh pihak keluarga.
“Misalnya ada keluarga yang mungkin bisa menjemput, mereka boleh pulang. Tetapi ada beberapa santri yang memang tetap tinggal di sana,” jelasnya.
Dinkes Sidoarjo juga terus memantau perkembangan kondisi 22 pasien yang masih menjalani rawat inap. Adapun 726 pasien lainnya menjalani pemulihan melalui rawat jalan.
Pemerintah daerah perlu memastikan evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap penyediaan MBG, mulai dari pengadaan bahan pangan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Istilah dugaan keracunan pangan masih digunakan karena penyebab pasti gangguan kesehatan serta keterkaitannya dengan makanan MBG masih menunggu pemeriksaan dan hasil investigasi lebih lanjut.
Hingga Jumat pukul 07.00 WIB, total tercatat 748 pasien, terdiri atas 22 pasien rawat inap dan 726 pasien yang telah KRS serta menjalani rawat jalan.*









