Filesatu.co.id, SIDOARJO | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo menyampaikan perkembangan pemeriksaan terkait kejadian gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa dan guru SDI Arahmah pada 7 Agustus 2026.
Kepala Dinkes Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., menyebut hasil pemeriksaan laboratorium telah tersedia. Berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada awak media melalui WhatsApp, ditemukan bakteri pada bahan mentah yang digunakan dalam pengolahan pangan.
“Penyebabnya bakteri pada bahan mentah,” ujar dr. Lakhsmie saat dikonfirmasi pada Jumat (21/8/2026).
Konfirmasi tersebut dilakukan untuk mendapatkan kepastian mengenai perkembangan pemeriksaan setelah sebelumnya pada 20 Agustus 2026 Dinkes menyampaikan bahwa terdapat bakteri pada salah satu bahan pangan yang dikonsumsi.
Pada konfirmasi sebelumnya, dr. Lakhsmie juga menyampaikan bahwa Dinkes melakukan pembinaan kepada pedagang di kantin sekolah agar memperhatikan kebersihan serta kelayakan bahan pangan yang akan diolah menjadi jajanan.
Saat ditanya apakah temuan tersebut sudah mengarah pada produk atau merek makanan tertentu, dr. Lakhsmie mengatakan akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan tim kesehatan masyarakat (Kesmas) yang mengetahui aspek teknis pemeriksaan.
Sehari kemudian, awak media kembali meminta kepastian apakah hasil pemeriksaan teknis telah tersedia. Dinkes kemudian memastikan bahwa hasil laboratorium sudah ada dan menyebut temuan bakteri terdapat pada bahan mentah.
Namun, dalam keterangan yang diterima awak media tersebut, Dinkes belum menyampaikan secara rinci jenis bakteri, nama atau jenis bahan mentah yang dimaksud, maupun produk tertentu yang berkaitan dengan temuan tersebut.
Karena itu, pemberitaan ini tidak menyimpulkan bahwa produk atau merek tertentu sebagai penyebab kejadian, mengingat belum terdapat keterangan resmi dari Dinkes mengenai identitas produk tersebut.
Dinkes Sidoarjo justru menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan dalam pengolahan pangan di kantin sekolah. Selain kebersihan lingkungan dan bahan pangan, pemahaman para penjamah makanan juga dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.
“Yang penting sekarang meningkatkan kewaspadaan pengolahan pangan di kantin-kantin sekolah, meningkatkan pemahaman penjamah makanan di sekolah,” kata dr. Lakhsmie.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak cemas, tetapi tetap waspada dengan menjaga kebersihan, kelayakan bahan pangan, serta kesehatan diri.
Keterangan Dinkes tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam penanganan kasus SDI Arahmah. Untuk memastikan informasi publik tetap akurat, detail mengenai jenis bakteri, bahan mentah, serta hubungan temuan laboratorium dengan gangguan kesehatan para siswa masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak teknis Dinkes.
Awak media tetap membuka ruang klarifikasi dan informasi tambahan dari Dinkes maupun pihak terkait apabila terdapat perkembangan resmi berikutnya.










