Filesatu.co.id, Lumajang | Tepat tengah malam suasana Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Lumajang berubah hening. Lampu utama dipadamkan, sementara cahaya obor dan lilin menerangi pusara para pahlawan.
Di tempat itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama jajaran Forkopimda dan peserta apel mengenang pengorbanan para pejuang bangsa dalam Apel Kehormatan dan Renungan Suci HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu (15/8/2026) pukul 00.00 WIB.
Prosesi dipimpin Dandim 0821 Lumajang selaku pimpinan apel. Seluruh peserta memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Berdasarkan data di TMP Kusuma Bangsa, terdapat 427 pahlawan yang dimakamkan di lokasi tersebut. Rinciannya terdiri dari 232 prajurit TNI, 94 anggota Polri, 11 pegawai sipil, 15 pejuang rakyat, dan 75 pahlawan tidak dikenal.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan renungan suci menjadi momentum untuk mengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan panjang.
“Di tengah suasana peringatan kemerdekaan ini, kita kembali diingatkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang dengan mudah. Ada pengorbanan jiwa, raga, harta, dan ketulusan para pahlawan yang harus selalu kita hormati,” ungkapnya.
Menurut Bunda Indah, mengenang jasa pahlawan tidak cukup hanya melalui upacara. Nilai perjuangan harus diteruskan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Semangat perjuangan para pahlawan harus menjadi teladan bagi kita semua. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan bekerja sebaik-baiknya, menjaga persatuan, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, serta bersama-sama membangun Kabupaten Lumajang dan Indonesia,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengenal sejarah dan menjaga nilai-nilai warisan para pendahulu.
Keberanian, keikhlasan, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air dinilai tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.*











