Tanggapan Aktris Kirana Larasati Kemiskinan Bukan Kesalahan Keluarga Melainkan Dampak Kebijakan Pemerintah

Filesatu.co.id,  Denpasar – Bali | Pernyataan aktris Kirana Larasati mengenai kasus meninggalnya pria berinisial KD akibat dugaan pengeroyokan massa di Baturiti, Kabupaten Tabanan, memicu perdebatan luas di media sosial. Di tengah gelombang simpati publik terhadap keluarga korban, Kirana justru mengajak masyarakat agar tidak memaklumi dugaan tindak pencurian yang menjadi awal peristiwa tersebut.

“Terlepas dari Opini Kirana Larasati, sifat empati harus tetap hidup apapun bentuknya, karena dia lahir dari kasih sayang, bukan egois yang sudah melilit hidup kita semua, ” Ray dari Humas ARUN Bali

Bacaan Lainnya

Melalui akun Threads pribadinya, Kirana menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya larut dalam narasi belas kasihan hingga mengesampingkan dugaan tindak pidana yang menjadi latar belakang kejadian.

“Kata aku sih stop meromanptisasi hidup maling. Maling uang rakyat juga banyak. Cuma gak bisa kena gebuk warga aja,” tulis Kirana Larasati.
Ia juga menilai alasan kemiskinan tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan melawan hukum.

“Korban kemalingan nya gimana? Kok gak kasihan? Punya anak istri juga loh mereka. Kita juga sering jadi korban maling duit rakyat, gak pernah dapat kasihan juga hehe,” lanjutnya.

Komentar tersebut memunculkan respons beragam. Sebagian warganet mendukung pandangan bahwa tindak pidana tetap tidak dapat dibenarkan apa pun alasannya. Namun, tidak sedikit yang menilai pernyataan tersebut terkesan egois dan kurang menunjukkan empati terhadap keluarga yang ditinggalkan, khususnya anak-anak korban yang kini harus menghadapi kehilangan sosok ayah.

Di sisi lain, sejumlah pihak berpandangan bahwa kemiskinan merupakan persoalan struktural yang tidak sepenuhnya lahir dari kesalahan individu maupun keluarganya. Faktor ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, kesenjangan sosial, hingga kebijakan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat dinilai turut memengaruhi kondisi yang dihadapi sebagian warga.

Meski demikian, pandangan tersebut juga tidak menghapus fakta bahwa setiap dugaan tindak pidana tetap harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Begitu pula dugaan aksi main hakim sendiri yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang harus diusut secara tuntas melalui proses hukum agar keadilan dapat ditegakkan bagi seluruh pihak.

Kasus Baturiti hingga kini masih menjadi perhatian publik karena memunculkan dua isu besar sekaligus, yakni dugaan tindak pidana pencurian dan dugaan pengeroyokan yang berujung pada kematian.

Perdebatan di ruang publik pun menunjukkan pentingnya menempatkan rasa kemanusiaan, penegakan hukum, dan penyelesaian persoalan kemiskinan secara berimbang tanpa menghilangkan hak setiap orang untuk memperoleh keadilan.

“Terlepas dari Opini Kirana Larasati, sifat empati harus tetap hidup apapun bentuknya, karena dia lahir dari kasih sayang, bukan egois yang sudah melilit hidup kita semua, ” Ray dari Humas ARUN Bali.

Kasus Baturiti, Kirana Larasati, Baturiti Tabanan, Pengeroyokan Baturiti, Kemiskinan, Kriminal Bali, Viral Bali, Berita Bali, Main Hakim Sendiri, Hukum Indonesia.

Laporan  : Benthar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *