Filesatu.co.id, Jakarta | Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam memajukan pendidikan kembali mendapat pengakuan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyerahkan dua penghargaan sekaligus kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pada acara Malam Tasyakuran Hari Pendidikan Nasional di Jakarta, Senin malam 25 Mei 2026.
Dua penghargaan tersebut adalah Apresiasi atas Komitmen Pembiasaan Anak Indonesia Hebat dan Penghargaan Pemda dengan Residu Data Pendidikan Terendah atau Validitas Terbaik.
Inovasi Jadi Kunci
Bupati Ipuk menegaskan penghargaan ini buah dari konsistensi Pemkab membangun ekosistem pendidikan yang inovatif dan inklusif. Salah satu program unggulan adalah “Smart Gasing” hasil kolaborasi dengan Prof. Yohanes Surya. Program ini mengenalkan matematika dan logika coding dengan metode menyenangkan ke siswa pelosok desa.
Hasilnya nyata. Felicia Dahayu, siswa SDN 1 Pesanggaran, berhasil meraih medali emas kompetisi coding The 9th World Innovative Technology Challenge di Chonnam National University, Korea Selatan, 2-3 November 2024.
“Smart Gasing membuktikan anak desa punya potensi luar biasa kalau diberi metode belajar yang tepat dan panggung untuk tampil,” kata Ipuk.
Karakter + Budaya Dikuatkan
Selain sains, Pemkab juga masif menguatkan pendidikan karakter lewat “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” sesuai arahan Mendikdasmen. Ruang ekspresi siswa diperluas lewat program rutin Padang Bulanan yang menampilkan kreasi seni pelajar tiap bulan.
Puncaknya, pagelaran Kuntulan Ewon saat peringatan Hardiknas 2026 diikuti lebih dari seribu pelajar. Ini sejalan dengan visi pemerintah pusat membangun “cultural infrastructure” untuk memperkuat karakter generasi muda.
“Kami memberikan ruang aktualisasi yang sangat besar bagi anak-anak kita untuk dapat tampil mengembangkan potensi,” ujar Menteri Abdul Mu’ti.
Data Valid, Anak Tidak Sekolah Turun
Penghargaan validitas data diberikan karena Pemkab ajeg melakukan pendataan keberlanjutan pendidikan siswa. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menyebut, konsistensi itu berdampak langsung pada indikator pendidikan.
“Angka Anak Tidak Sekolah Banyuwangi per 2025 masuk lima terendah se-Jawa Timur. Indeks Pembangunan Manusia juga naik menjadi 75,17. Data yang valid membuat program bantuan tepat sasaran,” jelas Alfian.
Guru Jadi Prioritas
Untuk memperkuat sistem, Pemkab juga meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik. Sejumlah guru diangkat menjadi PPPK dan PPPK Paruh Waktu. Langkah ini diharapkan meningkatkan motivasi dan kualitas pembelajaran di kelas.
“Ini pengakuan atas prestasi dan kreativitas seluruh anak Banyuwangi yang hebat. Selamat untuk seluruh anak Banyuwangi, terima kasih telah mengharumkan Banyuwangi,” tutup Ipuk.










