Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan Bantu Keluarga Pemulung Agar Anaknya Bisa Sekolah

FIlESATU.co.id, KOTA BEKASI | Anak-anak yang tumbuh di lingkungan kumuh dengan sanitasi buruk berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan fisik dan mental.

“Kondisi tersebut sering dialami anak-anak pemulung, pemulung anak, pengamen anak, dan anak rentan sosial lainnya. Lingkungan yang tidak layak menghambat pertumbuhan dan perkembangan mereka,” ujar Eddie Karsito.

Bacaan Lainnya

Demikian disampaikan Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan ini pada pengarahan orangtua wali murid para calon siswa binaan Humaniora Rumah Pintar, di Perumahan Kranggan Permai Jatisampurna Kota Bekasi, Sabtu (18/04/2026).

Anak Pemulung Wajib Sekolah

Pentingnya pendidikan dasar dan menengah, termasuk program sekolah berasrama, kata Eddie Karsito, bagi anak pemulung, pengamen jalanan dan pemulung anak, serta anak-anak yang mengalami kerentanan sosial.

“Memberikan ijazah, dan meningkatkan keahlian. Membuka kesempatan kerja yang lebih baik, sehingga anak tidak perlu memulung seperti orangtuanya,” tegas penggiat sosial budaya, yang juga wartawan senior ini.

Tahun Ajaran Baru 2026, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan telah mendaftarkan 21 anak binaannya masuk sekolah. Meliputi jenjang pendidikan TK, TPA, SD, SMP, hingga Pendidikan Kesetaraan Paket A.

Lembaga sosial nirlaba ini membina 94 anak, terdiri dari anak pemulung, pengamen, pedagang asongan dan keliling, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, supir angkot, yang sebagian dari mereka yatim-piatu.

“Kesempatan sekolah bagi anak-anak mereka ini diharapkan dapat membangun fondasi karakter. Mendorong keberanian mereka untuk beradaptasi, merasa punya harga diri, dapat tumbuh kembang layaknya anak-anak pada umumnya,” ujar Eddie Karsito.

Mengembangkan Kreativitas, dan Keterampilan

Pendidikan formal maupun informal sangat krusial bagi anak, khususnya anak-anak pemulung, pengamen jalanan dan anak yang mengalami kerentanan sosial lainnya.

“Pendidikan membantu anak-anak mengembangkan karakter, kreativitas, dan keterampilan, serta memberikan perlindungan dari eksploitasi,” tegas Eddie Karsito.

Upaya Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan menyekolahkan anak-anak pemulung ini diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan. Meningkatkan taraf hidup, dan memberi kesempatan bagi mereka meraih masa depan lebih baik.

Menurut Eddie Karsito, anak merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Anak adalah subjek hukum dan harus dilindungi. Selain itu anak juga harus dijaga, dan dibimbing untuk mencapai kesejahteraannya.

*Penduduk Miskin Kota Antar Wilayah*
Ada ratusan urban poor (penduduk miskin kota) tergolong orang terlantar (gelandangan) yang kini dalam pembinaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.

Lembaga nirlaba ini secara aktif membina dan membantu ratusan pemulung, pengamen, pedagang asongan, anak jalanan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pengemis, dan kaum marginal lainnya, yang menyambung hidup di kawasan perbatasan Kota Bekasi, Kota Depok, Bogor, dan Jakarta Timur.

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan juga menangani berbagai kasus yang dialami kelompok rentan sosial ini, dari mulai masalah pernikahan antar pemulung, kelahiran anak, hingga kematian.

Mengurus dokumen kependudukan mereka yang tidak lengkap, seperti KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah, Akta Kelahiran, hingga mendaftarkan anak-anak pemulung agar bisa sekolah.

Selain para orang tua wali murid, acara silaturahmi keluarga pemulung ini dihadiri Iwan Gardiawan (Dewan Pembina), Ageng Kiwi (Dewan Penyantun), Imam Dzaky Syukria Darmawan (Ketua Bidang Sosial) Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, serta pemerhati dan pekerja sosial lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *