Ratusan Guru Dikumpulkan, Dindik Madiun Perkuat Pembinaan Karakter Anak

Filesatu.co.id, MADIUN | Bertambahnya usia tidak otomatis menjadikan seseorang semakin matang maupun memiliki karakter yang lebih baik. Karena itu, pembentukan karakter peserta didik membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan usia sekaligus kebutuhan masing-masing.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Agus Sucipto, saat membuka Workshop Pendidikan “Peningkatan Pendidikan Karakter melalui Bidang Seni dan Budaya” di Gedung Dwija Hayu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Senin (19/10/2026).

Bacaan Lainnya

Workshop tersebut menghadirkan Drs. Djoni Setiawan, S.Pd., M.Pd., Widyaprada BBPMP Provinsi Jawa Timur, sebagai narasumber.

Kegiatan diikuti 386 guru, 15 K3S, serta perwakilan kepala sekolah sebanyak dua orang dari masing-masing kecamatan.

Seni dan Budaya Jadi Ruang Penguatan Karakter

Mengusung tema “Peningkatan Pendidikan Karakter melalui Bidang Seni dan Budaya”, kegiatan tersebut menempatkan seni dan budaya sebagai salah satu pendekatan dalam membangun karakter peserta didik.

Melalui bidang seni dan budaya, pendidikan karakter tidak hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi dapat dikembangkan melalui pengalaman, kreativitas, ekspresi, kedisiplinan, kerja sama, penghargaan terhadap karya serta nilai-nilai budaya.

Materi tersebut disampaikan dalam rangka memperkuat kapasitas guru dalam memahami dan mengembangkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

Sementara dalam sambutannya, Agus Sucipto menyoroti satu hal mendasar: pertambahan usia tidak otomatis menjadi jaminan kematangan karakter.

“Secara teori, semakin usia itu bertambah, semakin mampu mengendalikan dirinya. Semakin tua, artinya semakin matang,” ujar Agus.

Namun, Agus kemudian memberikan penekanan bahwa teori tersebut tidak serta-merta menjadi ukuran mutlak.

“Semakin tua tidak memberikan jaminan atau garansi bahwa seseorang itu semakin baik,” tegasnya.

Pembinaan Karakter Harus Melihat Kebutuhan

Menurut Agus, setiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik peserta didik yang berbeda. Karena itu, proses penyelesaian persoalan, penanganan dan pembinaan karakter tidak bisa menggunakan pendekatan yang seragam.

“Anak-anak usia SD, anak-anak usia SMP, anak-anak usia SMA, anak-anak yang sudah di perguruan tinggi atau yang disebut mahasiswa, penyelesaian dan penanganannya, pembinaannya, itu berbeda,” jelasnya.

Perbedaan pendekatan tersebut, lanjut Agus, tidak berarti tujuan pendidikan karakternya berbeda.

“Secara pendekatan memang berbeda. Tetapi konteks dasarnya masih sama, yaitu mengendalikan diri dan membentuk karakter,” tambahnya.

Agus bahkan memperluas cakupan tersebut sejak jenjang pendidikan anak usia dini hingga orang dewasa.

“Peranan karakteristik dari sebuah permasalahan anak usia SD—mau saya ulangi, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, mahasiswa, sampai yang sudah dewasa—itu mesti berbeda-beda,” ujarnya.

Pedagogis dan Andragogis

Agus juga mengingatkan pentingnya pemahaman guru terhadap pendekatan pendidikan sesuai karakteristik peserta didik.

“Karena dalam pendekatan pedagogis sekaligus ada pendekatan andragogis. Dalam hal ini pasti berbeda,” katanya.

Menurutnya, perbedaan karakteristik tersebut harus menjadi pertimbangan ketika guru melakukan pembinaan. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya, demikian pula peserta didik yang telah memasuki usia dewasa.

Namun, fondasinya tetap sama, yakni membangun kemampuan mengendalikan diri sekaligus membentuk karakter.

Umur Bukan Patokan, Kebutuhan yang Utama

Agus kembali menegaskan bahwa pertambahan usia tidak dapat dijadikan garansi seseorang memiliki karakter yang lebih baik.

“Dan sekali lagi kita harus sama-sama mencermati bahwa penambahan usia tidak memberikan garansi menjadi seorang yang memiliki karakter lebih baik,” tegasnya.

Karena itu, menurut Agus, kebutuhan peserta didik harus menjadi perhatian dalam proses pembinaan.

“Umur tidak menjadi patokan, tetapi kebutuhan,” tandasnya.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan tema workshop. Seni dan budaya dapat menjadi salah satu ruang bagi guru untuk menghadirkan proses pendidikan karakter yang lebih kontekstual dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.

Guru Diperkuat, Karakter Anak Dibentuk

Melalui workshop yang menghadirkan narasumber dari BBPMP Provinsi Jawa Timur, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun mendorong peningkatan kapasitas guru dalam mengembangkan pendidikan karakter.

Harapannya, materi yang diperoleh tidak berhenti di forum kegiatan, tetapi diterapkan dalam proses belajar-mengajar di sekolah.

Agus menegaskan harapan tersebut dalam sambutannya.

“Semoga peningkatan potensi guru dalam peningkatan potensi dan karakter pada anak pada hari ini bisa bermanfaat bagi kegiatan belajar-mengajar di Kabupaten Madiun,” pungkasnya.

Dengan melibatkan ratusan guru, K3S dan perwakilan kepala sekolah, workshop ini menjadi bagian dari upaya Dindik Kabupaten Madiun memperkuat ekosistem pendidikan—bahwa membangun karakter anak membutuhkan guru yang terus belajar, pendekatan yang tepat, serta ruang pendidikan yang mampu menyentuh kehidupan peserta didik.

Dan melalui seni dan budaya, pendidikan karakter diharapkan tidak hanya dipahami, tetapi juga dialami, dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik.(ADV)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *