Nama Jenggolo: Menelusuri Jejak Kerajaan Tua di Tanah Delta Brantas

Menelusuri Jejak Kerajaan Tua di Tanah Delta Brantas
Menelusuri Jejak Kerajaan Tua di Tanah Delta Brantas

Oleh: Didik Karaeng Filesatu.co.id | Heritage Sidoarjo

 

Bacaan Lainnya

Filesatu.co.id, SIDOARJO | NAMA Jenggolo mungkin asing bagi telinga generasi muda Sidoarjo saat ini. Namun, di balik nama sederhana itu, tersimpan warisan sejarah yang membentang hampir seribu tahun. Nama ini secara mendalam mengakar dalam pembentukan identitas kawasan Delta Brantas, mulai dari masa Raja Airlangga hingga Majapahit muncul.

Secara geografis, kawasan Jenggolo merujuk pada nama kerajaan kuno—Jenggala—yang terbentuk dari pecahan Kerajaan Medang. Perpecahan ini terjadi setelah Raja Airlangga memutuskan membagi kekuasaan kepada dua putranya sekitar tahun 1045 M. Jenggala kemudian menguasai wilayah timur, termasuk dataran hilir Sungai Brantas, yang kini mencakup sebagian besar Sidoarjo dan Surabaya.

Etimologi Nama: Dari “Jangala” ke “Jenggolo”

Dalam kajian etimologis, nama Jenggala atau Jenggolo diyakini berasal dari kata Sanskerta “Jangala” yang berarti wilayah terbuka, padang luas, atau tanah tanpa hutan. Nama ini sangat sesuai dengan bentang alam kawasan delta—dataran rendah yang subur, namun tidak berhutan lebat. Dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuna, nama ini kemungkinan terbentuk dari unsur “Jeng” yang berarti utama atau besar, dan “golo/gala” yang merujuk pada penjaga, pagar, atau batas wilayah.

“Masyarakat kita sering melupakan bahwa nama-nama lama seperti Jenggolo bukan sekadar nama administratif, tetapi penanda sejarah dan kekuasaan,” ungkap seorang pegiat sejarah lokal dari Prambon, saat ditemui Filesatu.co.id di sela kegiatan dokumentasi situs Watu Tulis. “Dari nama ini saja, kita bisa menelusuri jejak kejayaan dan strategi politik raja-raja Jawa kuno.”

Nama yang Menyimpan Jejak Peradaban

Naskah-naskah klasik seperti Kidung Panji dan berbagai prasasti dari masa pasca-Airlangga menyebutkan keberadaan Kerajaan Jenggala. Meskipun jejak arkeologisnya tidak sejelas peninggalan Majapahit, banyak yang percaya bahwa Jenggala mewariskan struktur sosial dan jalur ekonomi yang kemudian Majapahit lanjutkan. Sungai Brantas menjadi urat nadi perdagangan, yang menjadikan wilayah ini sangat strategis.

Bagi masyarakat lokal, nama Jenggolo kini mungkin hanya identik dengan jalan raya atau fasilitas publik. Namun sebenarnya, nama itu merupakan fosil linguistik—sisa dari kekuasaan yang pernah berdiri tegak di antara sungai dan sawah, tempat kerajaan menuliskan sejarahnya dengan batu, air, dan bahasa.

“Melalui nama-nama tempat, kita bisa membaca masa lalu,” tutur pegiat sejarah tersebut. “Namun, Jenggolo bukan cuma soal masa lalu, tetapi tentang siapa kita hari ini.”

Menjaga Jejak, Menghidupkan Ingatan

Dalam semangat pelestarian sejarah lokal, penggalian makna seperti ini menjadi sangat penting. Ini bukan hanya sebagai upaya dokumentasi, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan kolektif. Dengan memahami asal-usul nama seperti Jenggolo, generasi muda diajak untuk tidak sekadar mengenal peta, tetapi juga mengenali akar budayanya sendiri.

Filesatu.co.id mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat ke sekeliling—nama dusun, desa, sungai, atau bahkan makam-makam tua yang masih berdiri. Sebab, di sanalah sejarah bersembunyi, menunggu untuk ditemukan kembali.

Editor: Tim Redaksi Filesatu
Foto   : Dokumentasi Lapangan / Filesatu
Tags   : #SejarahJawaTimur #Jenggolo #KerajaanJenggala #Airlangga #SidoarjoKuno

 

Tinggalkan Balasan