Keluarga Bapak Debi Ardi Gelar Walimatul Hamli Tujuh Bulanan Adat Sunda

Keluarga Bapak Debi Ardi Gelar Walimatul Hamli Tujuh Bulanan Adat Sunda
Keluarga Bapak Debi Ardi Gelar Walimatul Hamli Tujuh Bulanan Adat Sunda

Filesatu.co.id, BATURAJA | DALAM rangka melestarikan budaya adat Sunda sekaligus memohon keselamatan bagi ibu hamil dan calon bayi, keluarga besar Bapak Debi Ardi dan Ibu Yeni marlinda menggelar acara Walimatul Hamli atau Tingkeban (tujuh bulanan), Sabtu, 17 Januari 2026.

Tradisi tersebut dilaksanakan seiring usia kehamilan yang telah memasuki bulan ketujuh, yang dalam budaya Sunda dan Jawa diyakini sebagai masa penting untuk memanjatkan doa keselamatan bagi ibu dan janin hingga proses persalinan kelak.

Bacaan Lainnya

Acara Tingkeban upacara adat untuk syukuran kehamilan pertama saat usia kandungan tujuh bulan—digelar di kediaman keluarga di Jalan Mukmin RT 02 RW 01, Talang Bandung, Kelurahan Talang Jawa, Kecamatan Baturaja Barat. Kegiatan dimulai pada pukul 01.00 WIB dan berlangsung khidmat serta penuh suasana kekeluargaan.

Sejumlah warga RW 01, kerabat dekat, tetangga, rekan kerja keluarga, serta ibu-ibu pengajian turut hadir sebagai bentuk kebersamaan dan dukungan moral kepada keluarga yang melaksanakan tradisi adat tersebut.

Rangkaian acara diawali dengan pengajian ibu-ibu dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa-doa dipanjatkan kepada Allah SWT agar ibu hamil dan calon bayi senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kelancaran hingga proses persalinan.

Usai doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan ritual adat Tingkeban yang menjadi inti acara. Salah satu prosesi utama adalah siraman, yakni memandikan ibu hamil dengan air dari tujuh sumber mata air yang melambangkan kesucian, doa, dan harapan agar persalinan berjalan lancar.

Prosesi berikutnya adalah ganti busana sebanyak tujuh kali, yang masing-masing memiliki makna simbolis tentang doa keselamatan, perjalanan hidup, serta harapan masa depan bagi sang anak.

Bapak Debi Ardi menyampaikan bahwa pelaksanaan Tingkeban ini merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur. Ia menuturkan bahwa acara ini memiliki makna penting karena kehamilan yang dijalani merupakan kehamilan pertama putrinya, Cynthia Auleura, S.Keb.

“Melalui acara ini, kami berharap ibu dan janin selalu diberikan kesehatan, keselamatan, serta kelancaran hingga proses persalinan nanti,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi Tingkeban menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antara keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.

Setelah seluruh rangkaian prosesi adat selesai, acara ditutup dengan kenduri bersama sebagai ungkapan rasa syukur. Keluarga turut menyajikan hidangan khas Tingkeban kepada para tamu undangan sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan kehidupan yang harmonis.

Sementara itu, Dalam sambutannya juga disampaikan oleh suami Cynthia Auleura, S.Keb., yakni M. Desta Ramadoni, M.Hum. Ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT serta berharap agar proses persalinan sang istri kelak diberikan kelancaran dan perlindungan oleh Allah SWT.

Melalui pelaksanaan Tingkeban ini, keluarga berharap nilai-nilai budaya dan tradisi adat tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern. ***

 

Tinggalkan Balasan