Filesatu.co.id, SUMENEP | NELAYAN tradisional di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, merasa resah dengan kehadiran kapal-kapal besar yang diduga milik perusahaan PT Kangean Energy Indonesia (KEI). Mereka khawatir aktivitas penangkapan ikan terganggu dan mata pencarian mereka terancam.
“Warga sudah tidak bisa beraktivitas di sekitar area yang mulai dikuasai oleh kapal-kapal besar yang diduga dari PT KEI dan mitranya. Ini bisa menjadi bencana bagi mata pencarian nelayan tradisional,” kata Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Kangean (AMPK), Ahmad Yani, pada Selasa (9/9/2025).
Menurut Yani, laporan dari nelayan di wilayah Kangean Barat menyebutkan bahwa kapal-kapal besar dari perusahaan tersebut sudah mulai berdatangan dan berlabuh, mengganggu pekerjaan para nelayan tradisional. “Mulai kemarin kami dapat laporan, kapal-kapal besar yang diduga dari PT KEI dan partnernya bertengger di laut Kangean Barat sehingga aktivitas warga terganggu,” ungkap Yani.
Yani menambahkan, pihaknya sangat prihatin karena situasi ini tidak hanya mengancam mata pencarian, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik. Beberapa nelayan dilaporkan sudah mulai mendatangi kapal-kapal tersebut untuk menegur, dan dikhawatirkan hal ini bisa memancing emosi nelayan lain untuk bertindak sendiri.
“Kami tahu, kemarin beberapa nelayan sudah mulai mendatangi kapal-kapal itu. Kami khawatir mereka terpancing emosi dan bertindak sendiri,” ucapnya.
Masyarakat Kangean, khususnya para nelayan, dengan tegas menolak kehadiran PT KEI yang berencana melakukan kegiatan pertambangan minyak dan gas (migas) di perairan Kangean Barat. Penolakan ini dibuktikan dengan gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat.
“Warga Kangean sudah menolak dengan tegas rencana eksplorasi dan eksploitasi migas di sini. Sangat ironis jika PT KEI memaksakan diri dan ngotot melakukan pertambangan di Pulau Kangean,” tegas Yani.




