Diduga Keracunan Santri Ponpes Manba’ul Hikam Sidoarjo Dievakuasi

Filesatu.co.id, Sidoarjo | Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam yang berlokasi di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan massal setelah mengonsumsi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026).

Angka tersebut merupakan data sementara yang dihimpun pihak berwenang hingga Selasa malam pukul 21.15 WIB sebanyak 110 Santri dan kemungkinan bisa bertambah, mengingat proses penanganan medis serta pendataan korban masih terus berlangsung secara masif di lapangan.

Bacaan Lainnya

 

Situasi di lingkungan pesantren sempat diwarnai kepanikan saat puluhan santri, baik putra maupun putri, mendadak mengeluhkan gejala mual, pusing, dan lemas secara bersamaan tidak lama setelah menyantap hidangan. Merespons kondisi darurat tersebut, beberapa armada ambulans dan kendaraan operasional kesehatan segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi para santri yang membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Proses evakuasi dan penanggulangan darurat berjalan intensif dengan melibatkan kerja sama lintas pihak. Tim medis, pengurus pesantren, warga sekitar, hingga jajaran aparat penegak hukum yang terdiri atas TNI, Polri, dan Satpol PP bahu-membahu menangani para korban di area pesantren. Untuk menyerap banyaknya jumlah korban, penanganan medis disebar ke beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Sidoarjo, mulai dari sejumlah rumah sakit, klinik, hingga puskesmas terdekat. Sementara itu, santri yang mengalami gejala tergolong ringan mendapatkan perawatan rawat jalan serta pemantauan intensif di lingkungan pesantren.

Perwakilan pengelola Yayasan Ponpes Manba’ul Hikam menjelaskan bahwa penyaluran program MBG di lingkungan mereka sebelumnya selalu berjalan lancar tanpa ada keluhan kesehatan dari para santri. Namun, pada hari kejadian, terdapat perubahan mekanisme teknis dalam penyajian makanan, yaitu penggunaan wadah ompreng yang berbeda dari biasanya yang menggunakan baskom atau dibagikan secara langsung.

Meski demikian, pihak yayasan menegaskan tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa perubahan wadah penyajian tersebut menjadi pemicu tunggal insiden ini. Pihak pengelola menyerahkan sepenuhnya proses pembuktian kepada pihak berwenang.

 

Pemeriksaan penyebab pasti keracunan massal ini masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan serta penyelidikan resmi yang tengah dilakukan oleh pihak berwenang.

Prioritas utama seluruh pihak saat ini tertuju pada pemulihan serta keselamatan para santri, sembari menunggu hasil investigasi resmi dari dinas kesehatan dan kepolisian setempat guna memastikan kronologi kejadian secara akurat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *