Filesatu.co.id, SUMENEP | BEA CUKAI Madura menuai sorotan tajam. Aktivis Youth Strategy menilai institusi tersebut gagal menunjukkan komitmen dan tindakan nyata dalam memberantas rokok ilegal, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Dalam audiensi resmi pada Selasa, 16 Juli 2025, perwakilan Youth Strategy mengajukan dua pertanyaan mendasar: apa langkah konkret Bea Cukai menekan peredaran rokok ilegal, dan di mana saja lokasi gudang ilegal yang sudah ditertibkan. Namun, mereka menilai jawaban dari pihak Bea Cukai tidak substansial. Jawaban hanya berputar pada narasi normatif seputar koordinasi, kolaborasi, serta sosialisasi.
“Kami tidak datang untuk mendengar jawaban template. Kami datang dengan fakta di lapangan, bahwa rokok ilegal beredar masif, gudangnya ada, produksinya jalan terus, tapi Bea Cukai Madura seolah menutup mata,” tegas Hasyim, juru bicara Youth Strategy.
Menurutnya, ketika lembaga sekelas Bea Cukai hanya menyodorkan jawaban formal tanpa disertai data tindakan nyata, publik berhak bertanya: apakah lembaga ini masih menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan hukum?
Indikasi Pembiaran dan Ketidakadilan
Audiensi ini justru membuka potret buram kelembagaan. Saat aktivis menyodorkan dasar hukum kuat—di antaranya UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai, UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Kesehatan—pihak Bea Cukai gagal memberikan tanggapan yang proporsional dengan kedaruratan masalah.
“Rokok ilegal bukan lagi isu biasa. Ini menyangkut kerugian negara, keselamatan konsumen, serta maraknya eksploitasi pekerja lapangan. Tapi Bea Cukai justru terdengar permisif. Bahkan sempat disinggung bahwa pelaku pabrik ilegal bisa dirangkul agar berizin. Ini bukan solusi, ini bentuk pembiaran!” ujar Hasyim.
Lebih parah lagi, lanjut Hasyim, narasi “merangkul pelaku ilegal” seakan melegalkan pelanggaran hukum secara terang-terangan. Dalam praktiknya, para pemilik modal besar tetap bebas beroperasi, sedangkan sopir dan kurir dijadikan kambing hitam saat terjadi penindakan.
“Bea Cukai seperti memilih jalan paling aman, menyasar kelas bawah dan membiarkan otak pelanggaran tetap berbisnis. Ini pengkhianatan terhadap keadilan,” kata dia.
Youth Strategy pun menyatakan sikap keras. Mereka akan terus mengawal isu ini dan siap melakukan aksi demonstrasi jika Bea Cukai Madura tidak menunjukkan langkah konkret dalam waktu dekat.
“Kalau lembaga negara tidak mampu bertindak, maka masyarakat sipil harus bersuara lebih lantang. Kami akan turun ke jalan, membawa bukti dan suara rakyat. Jangan lagi normalkan pelanggaran atas nama ekonomi,” pungkasnya.***




