Tumpukan Sampah Pasar Jungjang Dikeluhkan Pedagang, Pengelola Akui Ada Kendala Teknis

Penulis: Gunawan
Editor: Redaksi
Tumpukan Sampah Pasar Jungjang Dikeluhkan Pedagang
Tumpukan Sampah Pasar Jungjang Dikeluhkan Pedagang

Filesatu.co.id, CIREBON |  Tumpukan sampah di Pasar Tradisional Jungjang, Desa Jungjang, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, mengundang keluhan dari para pedagang. Sampah yang dibiarkan membusuk selama beberapa hari tanpa kunjung diangkut tersebut menyebarkan bau menyengat hingga mengganggu kenyamanan.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (2/11/2026), tumpukan sampah terlihat membeludak di area belakang pasar. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran aktivitas jual beli antara pedagang dan pembeli.

Bacaan Lainnya

“Sudah beberapa hari sampah tidak diangkut. Telat sehari saja baunya sudah sangat menyengat. Padahal kami para pedagang rutin ditarik retribusi sebesar Rp3.000 per hari,” keluh salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Pengelola Akui Adanya Keterlambatan

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Pasar Jungjang, Radi, membenarkan adanya keterlambatan dalam proses pengangkutan sampah.

Menurut Radi, keterlambatan ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, armada pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon sedang mengalami kendala teknis. Kedua, Kepala Urusan (Kaur) Bidang Kebersihan dan Pemeliharaan Pasar, Sodikin, sudah tujuh hari tidak masuk kerja dan dikabarkan berencana mengundurkan diri.

“Betul ada kendala teknis. Mobil armada dari DLH sedang bermasalah. Ditambah lagi Kaur Kebersihan sudah tujuh hari tidak masuk kerja dan mengabarkan hendak mengundurkan diri. Padahal, kami memiliki delapan orang personel kebersihan pasar. Insya Allah hari ini sampah langsung diangkut, saat ini saya sedang menjemput armada pengangkutnya,” ujar Radi saat dikonfirmasi.

Radi menjelaskan, sampah dari pasar nantinya akan disalurkan ke Bank Sampah yang dikelola oleh BUMDes Jungjang. Di sana, sampah dipilah menjadi sampah organik dan nonorganik untuk diolah kembali menjadi pupuk kompos. Program pengelolaan berbasis bank sampah ini baru berjalan selama satu bulan terakhir.

Selain itu, Radi juga mengimbau warga di sekitar permukiman pasar agar tidak membuang sampah rumah tangga ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) pasar. Sebab, pihak pengelola hanya memfasilitasi sampah yang dihasilkan oleh para pedagang pasar.

“Kami hanya mengelola sampah pedagang pasar. Untuk warga sekitar, mohon tidak membuang sampah domestiknya di sini,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Radi membuka kesempatan bagi warga Desa Jungjang yang ingin bergabung menjadi tenaga pemilah (sortir) sampah di Bank Sampah BUMDes. Peminat dapat mendaftarkan diri secara langsung ke Sekretariat Pengelola Pasar Desa Jungjang.

Ia berharap sinergi antara pengelola pasar dan BUMDes dalam mengoperasikan Bank Sampah dapat berjalan optimal, sehingga tata kelola kebersihan di Pasar Jungjang menjadi jauh lebih baik ke depannya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *