Ratusan Majelis Taklim di Gambiran Dikonsolidasikan, Kemenag Banyuwangi Perkuat Ketahanan Umat dari Akar Rumput

Filesatu.co.id, Banyuwangi  | Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gambiran menjadi ruang konsolidasi kekuatan keagamaan masyarakat. Sebanyak 102 Majelis Taklim dengan sekitar 700 jamaah mengikuti Pembinaan dan Penguatan Majelis Taklim, Rabu (23/9/2026).

Bacaan Lainnya

Forum tersebut menegaskan posisi Majelis Taklim bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan bagian penting dari ekosistem pembinaan umat dan pemeliharaan kerukunan di Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., mengatakan pembinaan keagamaan harus dibangun secara utuh. Akidah menjadi fondasi, syariat menjadi pedoman, sedangkan akhlak menjadi manifestasi keberagamaan dalam kehidupan sosial.

“Islam terdiri dari akidah dan syariat. Akidah harus diperkuat terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan pelaksanaan syariat,” ujar Chaironi.

Ia mengajak jamaah mengambil pelajaran dari tahapan dakwah Rasulullah SAW. Periode Makkah menjadi fase penguatan tauhid, sedangkan periode Madinah berkembang menjadi kehidupan umat yang lebih luas dengan tata sosial dan syariat.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama tidak cukup diukur dari bertambahnya pengetahuan keislaman. Ukuran yang lebih penting adalah lahirnya perilaku yang mencerminkan penghormatan kepada tetangga, kepedulian terhadap sesama, dan kemampuan hidup berdampingan secara damai.

Dalam konteks itu, Penyuluh Agama Islam memiliki peran vital sebagai pendamping masyarakat. Penyuluh menjadi penghubung antara kebijakan pembinaan keagamaan dengan kebutuhan riil di tingkat akar rumput, termasuk mendampingi aktivitas Majelis Taklim secara berkelanjutan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kesbangpol Banyuwangi Drs. R. Agus Mulyono, M.Si., Ketua FKUB Banyuwangi Drs. H. Nur Khozin, S.H., M.H., Kepala KUA Gambiran H. Yusron Suhaimi, S.H.I., M.H.I., Ketua LKKNU Banyuwangi Dalilatus Saadah, serta unsur Forkopimka, MUI, DMI, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh agama.

Kepala Kesbangpol Banyuwangi, Agus Mulyono, menegaskan bahwa kerukunan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Sementara itu, Ketua FKUB Banyuwangi, Nur Khozin, menekankan pentingnya  early warning system untuk mendeteksi potensi persoalan sosial-keagamaan sejak dini, termasuk keberadaan pemahaman keagamaan yang belum diakui.

Dari Gambiran, pembinaan Majelis Taklim diarahkan menjadi gerakan edukasi keagamaan yang tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga membangun ketahanan sosial, kerukunan, dan kemaslahatan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *