Ketika Kampus Unesa Ditolak di Tengah Kota Magetan

oleh :Agus W

DPC PWMOI- Magetan

Bacaan Lainnya

 

FIlESATU.co.id | Kehadiran Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Magetan seharusnya menjadi kabar besar bagi dunia pendidikan sekaligus peluang emas untuk menggerakkan perekonomian daerah.

Namun, harapan itu kini berhadapan dengan sikap Pemerintah Kabupaten Magetan yang tidak menyetujui pengembangan Kampus 5 Unesa di kawasan pusat Kota Magetan.

 

Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: mengapa kampus perguruan tinggi negeri yang berpotensi menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi justru tidak diarahkan untuk berkembang di tengah kota?

Pemerintah Kabupaten Magetan memang menyatakan tetap mendukung Unesa. Tetapi dukungan secara prinsip tentu harus dibuktikan dengan kebijakan konkret.

 

Sebab, bagi masyarakat, pembangunan kampus bukan sekadar persoalan gedung, lahan, ataupun aset pemerintah. Lebih dari itu, kampus adalah investasi jangka panjang bagi pendidikan dan perekonomian daerah.

Kita bisa melihat banyak kota di Indonesia. Ketika perguruan tinggi hadir di tengah kawasan perkotaan, denyut kehidupan ekonomi ikut bergerak. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, percetakan, toko buku, jasa laundry, tempat nongkrong, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

 

Ribuan mahasiswa bukan hanya datang untuk belajar. Mereka juga menghidupkan ekonomi.

Warung makan menjadi ramai. Rumah kos tumbuh. UMKM mendapatkan pasar baru. Transportasi bergerak.

 

Ruang-ruang usaha bermunculan. Bahkan kawasan yang sebelumnya biasa saja dapat berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Lalu, bagaimana dengan Magetan?

Kabupaten ini tentu membutuhkan pusat pertumbuhan baru. Dan kehadiran Unesa sebenarnya bisa menjadi salah satu pemicunya.

 

Maka ketika pengembangan kampus justru diarahkan agar berada di luar pusat kota, wajar jika muncul pertanyaan kritis dari masyarakat: apakah pemerintah daerah benar-benar melihat perguruan tinggi hanya sebagai fasilitas pendidikan, atau juga sebagai mesin penggerak ekonomi?

 

Memang benar, aset daerah harus dikelola secara hati-hati. Tidak ada yang mempersoalkan prinsip tersebut.

Tetapi pembangunan pendidikan juga membutuhkan keberanian mengambil keputusan strategis.

Jangan sampai persoalan aset justru membuat Magetan kehilangan momentum.

 

Kalau sebuah perguruan tinggi negeri bersedia mengembangkan kampus di Magetan, bukankah seharusnya pemerintah daerah berlomba menciptakan kondisi terbaik agar kampus tersebut tumbuh dan berkembang?

Apalagi jika kampus tersebut berada di pusat kota, bukan mustahil Magetan akan mendapatkan efek berantai yang luar biasa.

 

Pusat kota menjadi lebih hidup. Dunia usaha bergerak. UMKM berkembang. Sektor jasa tumbuh. Investasi baru datang. Dan pada akhirnya, masyarakatlah yang mendapatkan manfaat.

 

Memang, tidak otomatis setiap kampus yang berada di tengah kota akan langsung membuat perekonomian melejit. Tetapi keberadaan perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa dan aktivitas akademik yang besar jelas memiliki potensi menciptakan ekosistem ekonomi baru.

 

Karena itu, keputusan Pemkab Magetan untuk tidak menyetujui pengembangan Unesa di pusat kota patut dipertanyakan secara terbuka.

Apakah alasan keterbatasan aset cukup kuat untuk mengesampingkan peluang sebesar itu?

 

Atau justru diperlukan terobosan baru, misalnya skema kerja sama yang memungkinkan pengembangan kampus tetap berada di kawasan strategis tanpa mengorbankan kepentingan dan tata kelola aset daerah?

Inilah yang semestinya dicari.

 

Jangan sampai masyarakat menangkap kesan bahwa ketika berbicara tentang pembangunan fisik dan ekonomi, pemerintah begitu bersemangat, tetapi ketika berbicara tentang perguruan tinggi dan masa depan generasi muda, justru terlalu banyak pertimbangan.

Pendidikan bukan beban. Pendidikan adalah investasi.

Dan Unesa bukan sekadar bangunan kampus.

 

Unesa bisa menjadi magnet bagi anak-anak muda dari berbagai daerah. Bisa menjadi pusat inovasi. Bisa melahirkan tenaga profesional. Bisa membuka lapangan pekerjaan. Dan bisa menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

 

Karena itu, Pemkab Magetan seharusnya jangan hanya berpikir bagaimana menjaga aset yang ada, tetapi juga bagaimana menciptakan aset baru berupa kualitas SDM dan pertumbuhan ekonomi.

 

Jika memang pusat kota dianggap bukan lokasi yang tepat, pemerintah harus mampu menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat: apa alasan strategisnya, apa keuntungan bagi Magetan, dan bagaimana dampak ekonominya jika kampus ditempatkan di luar pusat kota?

 

Jangan sampai keputusan tersebut hanya berhenti pada kalimat “demi pemerataan pembangunan”, sementara masyarakat belum melihat secara jelas peta jalan dan manfaat konkretnya.

Magetan sedang mendapatkan kesempatan besar.

 

Jangan sampai kesempatan itu justru dipersempit oleh cara berpikir yang terlalu administratif.

Unesa sudah menunjukkan kepercayaan kepada Magetan.

 

Kini pertanyaannya kembali kepada pemerintah daerah:

Apakah Magetan siap menjadi kota pendidikan, atau justru membiarkan peluang itu bergerak ke tempat lain?

Pemerintah memang harus menjaga aset daerah.

 

Tetapi pemerintah juga mempunyai kewajiban yang tidak kalah besar: menjaga masa depan pendidikan dan membuka sebesar-besarnya peluang kemajuan ekonomi bagi masyarakat.

Jangan sampai sejarah mencatat, ketika sebuah perguruan tinggi negeri datang membawa peluang besar bagi Magetan, pemerintah daerah justru memilih mengambil jarak.

 

Karena kampus di tengah kota bukan hanya soal lokasi. Bisa jadi, di situlah denyut baru pendidikan, ekonomi, dan masa depan Magetan dimulai

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *