Sinergi Legislatif dan Ulama di Karawang: Sri Rahayu Agustina Gelar Dialog Rakyat dan Peringatan Isra Miraj

Anggota DPRD Jabar Srri Rahayu saat gelar dialog Rakyat dan peringatan Isra Miraj
Anggota DPRD Jabar Srri Rahayu saat gelar dialog Rakyat dan peringatan Isra Miraj

Filesatu.co.id, KARAWANG | DI TENGAH pesatnya arus informasi dan tantangan digitalisasi yang kian kompleks, pembangunan manusia tidak boleh hanya bertumpu pada aspek fisik, melainkan juga harus menyentuh sisi spiritualitas. Prinsip inilah yang ditekankan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Sri Rahayu Agustina, saat menggelar kegiatan Dialog Rakyat yang dirangkaikan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 H.

Bertempat di kawasan Anjun, Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, agenda ini menjadi wadah strategis untuk menyerap aspirasi sekaligus membina mentalitas warga. Digelar pada Minggu (25/01/2026), acara ini dihadiri oleh ratusan jamaah, tokoh masyarakat, hingga jajaran Muspika setempat.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan bagi Sri Rahayu Agustina. Sebagai legislator dari Fraksi Golkar, ia melihat adanya kegelisahan yang nyata di masyarakat, terutama para orang tua, terkait dampak negatif teknologi informasi yang kini merambah hingga ke pelosok desa di Karawang.

Dalam sambutannya, Sri Rahayu menegaskan bahwa tugas anggota legislatif mencakup pembangunan manusia seutuhnya. Tema yang diangkat, “Memperkokoh Shalat sebagai Pelabuhan Iman di Tengah Arus Digitalisasi”, sengaja dipilih untuk memberikan solusi konkret atas degradasi moral di dunia maya.

“Melalui Dialog Rakyat ini, kami mendengar langsung kegelisahan warga. Digitalisasi membawa kemudahan, tapi juga membawa hoaks dan konten negatif. Di sinilah peran shalat sebagai ‘pelabuhan’ iman kita. Shalat harus menjadi jangkar agar hati tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi,” ujar Sri Rahayu.

Salah satu poin penting yang disoroti dalam dialog tersebut adalah peran sentral kaum perempuan, khususnya ibu-ibu pengajian, dalam struktur keluarga. Sri Rahayu mengajak para ibu untuk tidak “gaptek” (gagap teknologi) agar tetap mampu mengawasi anak-anak mereka.

Menurutnya, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Di era digital, pengawasan perangkat seluler harus dimulai dari rumah dengan pendekatan nilai-nilai agama. Ia mendorong agar ponsel dimanfaatkan untuk hal-hal produktif yang mendukung pendidikan dan ekonomi keluarga, bukan justru menjadi sumber konflik atau pemborosan waktu.

Untuk memperdalam pemahaman spiritual, acara ini menghadirkan penceramah utama Ustaz Ahmad Sajili Mustofa dari Dai Cahaya Hati. Dalam tausiyahnya, ia memberikan perspektif baru mengenai hakikat Isra Miraj dan perintah shalat lima waktu.

Ustaz Ahmad menekankan bahwa shalat bukan sekadar hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah), melainkan harus bertransformasi menjadi hubungan harmonis antar sesama manusia (Hablum Minannas).

Poin Utama Tausiyah Ustaz Ahmad Sajili:

  • Manifestasi Kesalehan: Shalat yang mabrur tercermin dari etika seseorang dalam bertetangga dan bermasyarakat.
  • Etika Digital: Di era modern, Hablum Minannas diuji melalui ujung jari. Orang yang shalatnya benar tidak akan menyebarkan fitnah atau hoaks di media sosial.
  • Tanggung Jawab Moral: Disiplin dalam ibadah harus linier dengan kejujuran dalam berinteraksi di dunia nyata maupun dunia maya.

“Jika seseorang rajin bersujud namun tetap menebar kebencian di media sosial, maka kualitas shalatnya perlu dipertanyakan,” tegas Ustaz Ahmad di hadapan jajaran Muspika Kecamatan Karawang Barat.

Kehadiran jajaran Muspika Karawang Barat dalam Dialog Rakyat ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara umaro (pemerintah), ulama, dan legislatif. Sinergi ini memastikan bahwa setiap aspirasi yang muncul, baik terkait isu sosial maupun infrastruktur, dapat dikoordinasikan dengan baik ke tingkat pemerintahan daerah.

Apresiasi pun datang dari warga Anjun. Mereka menilai kehadiran Sri Rahayu Agustina memberikan dampak positif karena dilakukan secara rutin, bukan hanya menjelang kontestasi politik. Penjelasan mengenai cara bijak menggunakan teknologi dari sudut pandang agama dirasa sangat membantu para orang tua dalam mendidik anak di rumah.

Sebagai penutup, Sri Rahayu Agustina menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kebijakan yang menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kematangan iman. Bagi beliau, visi pembangunan Jawa Barat harus bermuara pada terciptanya harmoni sosial yang kokoh.

Melalui kegiatan Dialog Rakyat ini, diharapkan masyarakat Karawang dapat memiliki “filter” alami terhadap pengaruh buruk digitalisasi. Tujuannya adalah mencetak individu yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga saleh secara sosial, guna mewujudkan lingkungan yang aman dan damai. ***

 

Tinggalkan Balasan