Filesatu.co.id, SIDOARJO | PENGUMUMAN resmi pemenang ajang Heritage Sidoarjo 2025 pada Rabu (24/9/2025) di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo menuai kritik tajam dari kalangan wartawan dan pegiat budaya. Lomba yang meliputi karya tulis, video vlog, dan fotografi ini disorot karena kurangnya transparansi dalam proses dan hasil penilaian.
Kritik utama muncul dari sejumlah pihak yang mempertanyakan dasar penilaian panitia, terutama karena beberapa nama pemenang tidak dikenal dalam komunitas jurnalis lokal. Kejanggalan ini diperkuat oleh fakta bahwa tidak ada satu pun wartawan lokal yang tergabung dalam grup resmi Kominfo Sidoarjo berhasil meraih juara, meskipun mereka aktif mengangkat isu budaya dan sejarah.
“Ini menimbulkan tanda tanya. Wartawan lokal yang selama ini aktif mengangkat isu budaya dan sejarah Sidoarjo justru tidak satupun yang mendapat nomor juara. Lalu siapa sebenarnya para pemenang?” ujar salah satu jurnalis senior di Sidoarjo.
Menanggapi kritik yang beredar, panitia Heritage Sidoarjo 2025 segera memberikan klarifikasi. Panitia menegaskan bahwa proses penjurian berlangsung independen dengan melibatkan tokoh-tokoh berkelas nasional, di antaranya Seno Joko Suyono, Afrizal Malna, dan Henry Nurcahyo.
Untuk menjamin transparansi, panitia menyatakan bahwa seluruh dokumen penilaian lengkap dari dewan juri dapat diminta langsung kepada ketua panitia.
“Yang jelas kami sudah memfasilitasi masyarakat umum agar memiliki hak yang sama untuk ikut lomba dengan juri-juri nasional. Harapannya, lomba ini mampu mengangkat nama Sidoarjo,” tegas panitia.
Panitia menambahkan, media juga telah diberikan kesempatan untuk mewawancarai langsung para pemenang, termasuk kategori karya tulis, sebagai upaya agar publik dapat memahami alasan karya tersebut terpilih.
Dengan klarifikasi ini, panitia berharap polemik dapat mereda dan ajang Heritage Sidoarjo 2025 tetap menjadi sarana apresiasi dan pembelajaran, serta berkomitmen untuk menyelenggarakan gelaran berikutnya dengan proses yang lebih transparan.




