Filesatu.co.id, SAMPANG | KABUPATEN Sampang, Madura, terus melawan penyakit kusta yang masih membayangi masyarakat. Di tengah semangat gotong royong, perjuangan ini bukan sekadar tugas medis, melainkan upaya kemanusiaan dan harapan.
Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Sampang menegaskan komitmennya memerangi penyakit yang sarat stigma ini. Eliminasi kusta memang tidak mudah, namun langkah demi langkah terus mereka ambil di tengah segala keterbatasan dan tantangan.
Prevalensi kusta di Sampang sempat menurun sejak 2014, namun kembali meningkat pada 2024, mencapai 2,27% per 10.000 penduduk. Ini mengingatkan bahwa penanganan kusta memerlukan kerja panjang dan konsisten.
Memasuki pertengahan 2025, Dinkes KB menemukan 85 kasus baru, termasuk 2 kasus pada anak-anak dan 2 kasus disabilitas tingkat dua. Fakta ini menunjukkan kusta masih menjadi ancaman nyata, terutama jika ditemukan terlambat.
Meskipun tantangan menghadang, Sampang menorehkan capaian penting. “Tahun 2020, tingkat keberhasilan pengobatan kami di atas 90%. Hingga pertengahan 2025, angka keberhasilan sudah mencapai 83%,” ujar Plt Kepala Dinkes KB Sampang, dr. Dwi Herlinda Lusi Harini.
Menurut dr. Lusi, mencapai angka tersebut tidak mudah. Selain keterbatasan anggaran dan fasilitas, stigma sosial terhadap penderita kusta masih menjadi momok besar yang menghambat deteksi dan pengobatan dini.
Sampang tidak hanya mengandalkan pendekatan medis. Pemerintah daerah bersama masyarakat menciptakan solusi berbasis komunitas. Salah satunya, program “Desa Sahabat Kusta” yang kini telah diterapkan di lima desa.
“Melalui program ini, kami melatih kader lokal agar mampu membantu deteksi dini dan mengikis stigma yang masih mengakar,” jelas dr. Lusi.
Dinkes KB juga menggagas dua program lain: “Desa Kuasik” dan “PDKT” (Penemuan Dini Kusta Terpadu). Program ini melibatkan tokoh agama, kepala desa, dan elemen masyarakat lainnya sebagai garda terdepan dalam edukasi dan penjaringan kasus di tingkat akar rumput.
Bagi Sampang, target bebas kusta pada tahun 2030 bukan sekadar angka, melainkan mimpi besar yang terus diperjuangkan. Setiap program, kolaborasi lintas sektor, hingga kerja para kader desa menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah.
“Dengan upaya yang saat ini kami jalankan, kami yakin Sampang bisa bebas dari kusta sebelum tahun 2030,” tegas dr. Lusi, penuh keyakinan.
“Sampang melawan kusta bukan hanya dengan obat dan data, tapi dengan hati dan keberanian. Karena di balik setiap angka, ada manusia yang ingin sembuh, bangkit, dan hidup tanpa stigma,” timpalnya.




