Kisah Purnama Sari: Wanita Lembut yang Tak Pernah Lelah Mencari Ketulusan Meski Sering Disakiti

Penulis: Ali Zebet SL
Editor: Redaksi
Purnama Sari
Purnama Sari

Filesatu.co.id, BATURAJA | DI BALIK  lengkung senyum yang hampir selalu menghiasi wajahnya, Purnama Sari menyimpan sebuah rahasia yang teramat sunyi. Luka itu bukan lahir dari pahitnya kemiskinan atau kerasnya perjuangan hidup, melainkan dari reruntuhan harapan tentang sebuah ketulusan yang berulang kali dikhianati.

Bagi Purnama, perjalanan asmara seolah menjadi labirin tanpa ujung yang membawanya kembali ke titik yang sama: kekecewaan. Ia mencintai dengan seluruh hati, namun tak jarang yang datang hanyalah mereka yang singgah sebentar. Sosok-sosok yang hadir membawa janji manis, lalu pergi tanpa jejak, meninggalkan kepingan hati yang kian rapuh.

Bacaan Lainnya

Dikenal sebagai wanita yang ramah dengan tutur kata halus, Purnama adalah cermin kelembutan. Di lingkungan sekitarnya, ia dicintai anak-anak kecil karena pancaran kasih sayangnya yang murni. Namun ironisnya, hati yang begitu penuh cinta ini justru seringkali menjadi sasaran empuk bagi mereka yang tidak siap menjaga sebuah komitmen.

“Salahkah aku yang terlalu tulus? Ataukah cinta memang tak pernah berpihak kepadaku?” tanya batinnya dalam kesunyian malam.

Meski kerap menangis dalam diam saat dunia terasa sepi, Purnama tidak pernah membiarkan kesedihannya tumpah di hadapan orang lain. Ia memilih menutup lukanya dengan kesabaran, menjalani hari-hari dengan ketegaran yang tak semua orang sanggup miliki.

Harapan Purnama Sari sebenarnya sangat sederhana namun mulia. Ia tidak mencari kemewahan, melainkan seorang pendamping hidup yang ikhlas menerima dirinya apa adanya. Ia merindukan sosok laki-laki yang mampu menjadi imam, membimbingnya dalam ibadah, dan tetap menggenggam tangannya erat, baik saat suka maupun duka.

Di lubuk hatinya yang terdalam, Purnama menyimpan satu impian suci: bersimpuh di depan Ka’bah, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah bersama pasangan hidupnya. Ia mendambakan seseorang yang mencintainya karena Sang Pencipta, sosok yang menjadikannya “rumah” terakhir, bukan sekadar tempat persinggahan.

Kini, di tengah penantiannya, Purnama Sari memilih untuk terus memperbaiki diri dan berdoa. Baginya, bagi siapa pun yang merasa terpanggil untuk mengenal sosoknya dengan niat tulus dan sopan, ia membuka pintu komunikasi melalui pesan WhatsApp di nomor +62 822-xxxx-1076.

Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam mengatur waktu. Meski lelah dan sering terluka, Purnama tetap yakin bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang datang untuk tinggal selamanya—menghapus air matanya dan menjadi pelabuhan terakhir bagi hatinya yang telah terlalu lama kesepian. ***

 

Tinggalkan Balasan