Ketua DPRD Sidoarjo Dukung Penuh Anugerah Jurnalistik 2025 dalam Konteks Wisata Budaya dan Kuliner Khas

Filesatu.co.id, Sidoarjo | Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Abdillah Nasikh, memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Anugerah Jurnalistik Sidoarjo 2025 yang digelar di Pendopo Delta Wibawa, Jalan Cokronegoro No. 1 Sidoarjo, Selasa (23/9/2025).

Bacaan Lainnya

Acara ini mengangkat tema “Mobile Journalism” dan diikuti oleh puluhan peserta, mulai dari jurnalis media cetak, elektronik, online, pegiat media sosial, hingga komunitas kreatif. Sejak pagi hari, Pendopo Delta Wibawa tampak dipadati peserta. Rangkaian acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan registrasi, dilanjutkan pembukaan oleh MC Affan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa bersama.

Peran Vital Jurnalis

Dalam sambutannya, Abdillah menegaskan bahwa keberadaan jurnalis di era digital memiliki posisi sangat vital. Menurutnya, derasnya arus informasi tidak bisa hanya dibiarkan mengalir tanpa filter. Dibutuhkan peran jurnalis yang mampu menghadirkan informasi kredibel, berimbang, dan mendidik.

“Jurnalis punya peran yang tidak tergantikan. Di tengah derasnya informasi digital, masyarakat bisa salah langkah jika tidak ada panduan. Jurnalis hadir bukan sekadar menyampaikan kabar, tapi menuntun arah informasi agar tidak menyesatkan. Jurnalistik foto, video, hingga vlog adalah keniscayaan yang harus diarahkan untuk menghasilkan karya yang berkualitas,” ujarnya.

Abdillah menekankan bahwa karya jurnalistik seharusnya tidak berhenti pada penyajian berita aktual semata. Lebih dari itu, jurnalistik bisa menjadi pintu masuk untuk menggali potensi lokal yang selama ini jarang dipublikasikan.

Wisata Spiritual dan Kuliner Khas:

Ketua DPRD Sidoarjo itu menyoroti kekayaan sejarah dan budaya di daerahnya. Ia menyebut Sidoarjo memiliki banyak makam wali, auliya, serta tokoh sepuh yang tersebar di berbagai kecamatan. Situs-situs ini bisa dikembangkan menjadi wisata spiritual yang memberi nilai edukasi sekaligus religius.

“Melalui karya jurnalistik, potensi wisata spiritual yang ada di Sidoarjo bisa dikenal lebih luas. Ini bukan hanya urusan ziarah, tetapi juga pelestarian jejak sejarah dan penyampaian nilai budaya kepada generasi mendatang,” jelasnya.

Selain itu, Abdillah menyoroti kuliner tradisional khas Sidoarjo yang kini mulai tergerus oleh jajanan modern. Ia menyebutkan sejumlah panganan khas seperti ladu, kolak Sri Koyo Kauman, cucur pasar, jenang gempol, hingga kue apem yang dulu populer namun kini semakin jarang ditemui.

“Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mengenal jajanan khas kita. Padahal kuliner ini bagian dari identitas daerah. Melalui karya jurnalistik, kuliner tradisional bisa diangkat kembali ke permukaan, bahkan menjadi daya tarik wisata. Ini pekerjaan bersama, bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat dan para jurnalis,” tegasnya.

Jurnalis Sebagai Agen Perubahan:

Lebih jauh, Abdillah menegaskan bahwa jurnalis bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga agen kontrol sosial. Menurutnya, jurnalis dapat mengawal pembangunan daerah sekaligus memperkenalkan wajah Sidoarjo ke panggung nasional bahkan internasional.

“Bayangkan jika cerita lokal Sidoarjo yang penuh sejarah, tradisi, dan kuliner khas dipublikasikan secara konsisten. Dunia tidak hanya mengenal Sidoarjo sebagai kawasan industri, tapi juga sebagai pusat budaya dan kuliner yang unik. Dampaknya bisa besar: meningkatkan ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha, sekaligus memperkuat identitas daerah,” tambahnya.

Pernyataan ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak jurnalis menilai bahwa dorongan Ketua DPRD memberi motivasi agar karya jurnalistik tidak hanya menjadi dokumentasi peristiwa, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat.

Materi Workshop:

Setelah sambutan Ketua DPRD, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidoarjo juga menyampaikan arahan singkat. Acara kemudian berlanjut ke sesi workshop utama.

Materi pertama disampaikan oleh Hendro, pegiat media lokal, dengan topik “Teknik Fotografi Mobile untuk Dokumentasi Heritage Sidoarjo”. Ia menekankan bahwa kamera ponsel dapat dimaksimalkan untuk merekam jejak budaya, arsitektur kuno, maupun aktivitas masyarakat yang memiliki nilai sejarah.

Materi kedua dibawakan oleh Malik dari Kantor Berita ANTARA. Dengan tema “Produksi Video Pendek dengan Smartphone untuk Storytelling Sejarah dan Budaya”, Malik mengajak peserta lebih berani bercerita melalui medium video. Ia menekankan kreativitas, keberanian mencoba, serta keterampilan teknis agar video yang dihasilkan informatif sekaligus menarik.

Diskusi interaktif kemudian dipandu moderator Anita Yuli. Tiga peserta berkesempatan bertanya, di antaranya soal teknik editing sederhana, etika pengambilan gambar di situs bersejarah, hingga strategi membuat konten lokal agar diminati audiens global. Diskusi berlangsung dinamis dan membuka wawasan baru bagi peserta.

Harapan ke Depan:

Menjelang penutupan acara pukul 12.10 WIB, panitia menggelar sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Pendopo Delta Wibawa.

Dalam keterangan penutupnya kepada awak media, Abdillah kembali menekankan bahwa Anugerah Jurnalistik Sidoarjo tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial. Menurutnya, kegiatan ini harus menjadi gerakan bersama untuk menghidupkan kembali potensi lokal, baik wisata, budaya, maupun kuliner khas.

“Saya berharap ajang ini menjadi momentum penting. Mari kita jadikan karya jurnalistik sebagai pintu untuk memperkenalkan Sidoarjo dari sisi yang membanggakan. Ketika sejarah, budaya, dan kuliner khas kita diangkat, maka dunia akan tahu siapa kita. Saya yakin jurnalis bisa membawa cerita lokal kita hingga ke tingkat internasional,” pungkasnya.

Dengan dukungan penuh dari Ketua DPRD serta kolaborasi lintas komunitas media dan pemerintah daerah, Anugerah Jurnalistik Sidoarjo 2025 diharapkan menjadi tonggak baru kebangkitan jurnalisme lokal yang berdaya guna, menjaga warisan budaya, dan mempromosikan identitas kuliner khas Sidoarjo kepada generasi mendatang. (Didik)

Tinggalkan Balasan