Filesatu.co.id, Madiun | Pemerintah Kabupaten Madiun melalui Dinas Lingkungan Hidup mengadakan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dan Lubang Resapan Biopori. Selama dua hari (Selasa-Rabu), pelatihan diselenggarakan di Rumah Makan Icha Orient Tarsan dan diikuti peserta dari sekolah adiwiyata dan pondok pesantren di wilayah Kabupaten Madiun, Selasa (18/11/2025).
Pupuk organik memiliki beberapa peran positif terhadap lingkungan hidup. Pertama, mengurangi polusi tanah dan air. Kemudian, meningkatkan kesuburan tanah. Selain itu, Pupuk organik dapat meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah, sehingga meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi erosi. Pupuk organik juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Meningkatkan biodiversitas serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Zahrowi mengatakan bahwa kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan pemahaman perilaku ramah lingkungan kepada warga masyarakat khususnya di lembaga pendidikan (sekolah dan pondok pesantren) yang ada di Kabupaten Madiun.
“Sekolah/ Madrasah dan pesantren merupakan tempat belajar untuk meningkatkan pengetahuan di bidang pendidikan khususnya Pendidikan Lingkungan Hidup. Lembaga tersebut bisa menjadi tempat yang strategis dalam menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup sejak dini. Sehingga harapannya, kelak mereka para siswa dan santri akan menjadi pemimpin dengan visi yang berwawasan atau cara pandang yang memperhatikan aspek pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan,” terang Zahrowi.

Dalam kesempatan tersebut, lanjut Zahrowi, peserta pelatihan diajarkan bagaimana membuat pupuk organik dari bahan-bahan seperti dedauan, sisa makan, sisa sayuran atau sampah dapur/ kantin lainnya yang ada disekitar lingkungan masing-masing.
“Pupuk organik tersebut tentunya ramah lingkungan dan aman diaplikasikan ke tanaman yang ada di sekolah. Selain itu peserta diberikan pengetahuan bagaimana cara membudidayakan magot sebagai salah satu cara menangani sampah organik di lingkungan, dan bagaimana memanfaatkan magot agar bernilai ekonomis,” imbuhnya.
Terakhir, sebagai bentuk konservasi air, peserta dilatih membuat lubang resapan biopori (LBR) yang berfungsi untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Zahrowi berharap, adanya pelatihan seperti ini dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“LBR juga berfungsi sebagai media pemproses dedaunan atau sampah organik lainnya menjadi kompos secara alami. Sampah organik tersebut dimasukan ke dalam LBR secara berkala dan dibiarkan sampai 3-4 bulan maka bisa dipanen kompos yang dihasilkan. Harapan kami, seluruh unsur masyarakat memiliki kepedulian dan peran aktif dalam pengelolaan dan pengendalian lingkungan hidup, tak terkecuali dunia Pendidikan dalam hal ini lembaga Pendidikan seperti sekolah/madrasah dan pesantren,” pungkas Zahrowi.




